Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 13 November 2017 11:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Saat Sultan Bicara soal Obesitas

“Kondisi ini akhirnya memicu kelebihan gizi [obesitas] dan memunculkan berbagai penyakit noninfeksi yang berbahaya seperti jantung dan pembuluh darah”

Solopos.com, JOGJA-Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyoroti perilaku masyarakat yang doyan makan makanan cepat saji, tapi di sisi lain kurang suka melakukan aktivitas fisik sehingga berakibat pada munculnya berbagai penyakit berbahaya, seperti sakit jantung dan pembuluh darah.

Hal tersebut ia utarakan pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-53 dan Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembaranagn Tingkat DIY di Alun-Alun Kidul, Minggu (12/11/2017). Sri Sultan HB X mengatakan, maraknya makanan cepat saji telah mendorong masyarakat untuk mengabaikan asupan gizi yang seimbang.

Asupan makanan cepat saji yang berlebih, nyatanya oleh sebagian masyarakat urban tidak dibarengi dengan aktivitas fisik yang cukup. Sebabnya, dewasa ini segala sesuatu bisa dilakukan dengan mudah dan ditambah semakin menyempitnuya ruang dan waktu maka sebagian dari masyarakat enggan untuk menggerakan tubuh.

“Kondisi ini akhirnya memicu kelebihan gizi [obesitas] dan memunculkan berbagai penyakit noninfeksi yang berbahaya seperti jantung dan pembuluh darah,” ucapnya saat memberikan sambutan.

Padahal, perilaku atau gaya hidup sehat, kata Sri Sultan HB X merupakan faktor paling penting yang menentukkan derajat kesehatan seseorang. Selain itu, lingkungan yang sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau juga penting. Pasalnya, individu yang berperilaku hidup sehat tentu akan menjaga lingkungan agar tetap bersahabat dan mengoptimalkan pelayanan kesehatan.

Ia menilai, lewat momen Peringatan Hari Kesehataan Nasional yang menegaskan gaya hidup sebagai paradigma hidup sehat itu, harus dijadikan upaya holistik, terpadu, dan berkesinambungan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik, sejahtera dan produktif.

Dengan kebiasaan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, kebijakan kesehatan yang selama ini cenderung bertumpu pada pemerintah, akan bisa dialihkan kepada masyarakat secara terencana dan bertahap.  Hal tersebut akan tercapai jika setiap individu memiliki kesadaran untuk bergaya hidup sehat.

“Sudah seharusnya masyarakat menyambut baik gagasan ini. Dengan tema Sehat Keluargaku Sehat Indonesiaku, maka paradigma gaya hidup sehat bukan hanya pilar penting untuk keluarga, tapi juga akan menjadi driving force untuk membawa Indonesia sehat pada tahun 2025,” ucapnya lagi.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…