Petugas Damkar Klaten mengevakuasi sarang tawon di rumah Kepala Dishub Klaten, Purwanto Anggono Cipto, Dukuh Methuk Kidul, Desa Tegalyoso, Klaten Selatan, Minggu (12/11/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Petugas Damkar Klaten mengevakuasi sarang tawon di rumah Kepala Dishub Klaten, Purwanto Anggono Cipto, Dukuh Methuk Kidul, Desa Tegalyoso, Klaten Selatan, Minggu (12/11/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 13 November 2017 22:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Perjuangan Tanpa Lelah Damkar Klaten Memusnahkan Sarang Tawon

Sudah hampir setahun Damkar Klaten bergelut memusnahkan sarang tawon di berbagai wilayah Kabupaten Bersinar.

Solopos.com, KLATEN — Selama hampir setahun para petugas Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten tak hanya mengurusi laporan pemadaman api. Hampir saban hari, petugas Unit Damkar Klaten wira-wiri mendatangi rumah serta pekarangan warga untuk memusnahkan sarang tawon berukuran besar.

Seperti pada Senin (13/11/2017), Unit Damkar yang beralamat di Jl. Mayor Kusmanto, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Selatan, memiliki jadwal pemusnahan sarang tawon di tiga wilayah yakni Kecamatan Kalikotes, Ceper, dan Pedan. Daftar tunggunya sudah mencapai 10 laporan. (Baca: Rumah Dishub Klaten Kena OTT)

“Personel kami terbatas sementara jumlah laporan itu banyak,” kata salah satu petugas unit Damkar Klaten, Eddy Setyawan, 29, saat ditemui di Unit Damkar Klaten, Senin.

Unit Damkar kebanjiran permintaan pemusnahan sarang tawon sejak 26 Desember 2016. Saat itu, petugas Damkar mendapat permintaan memusnahkan sarang tawon berukuran besar di Stasiun Klaten.

Aksi penanganan sarang tawon beredar di media sosial (medsos) hingga warga ramai-ramai mengadu ke Unit Damkar ketika di wilayah mereka terdapat sarang tawon. Hingga kini, petugas Unit Damkar sudah melakukan sekitar 130 pemusnahan yang belakangan disebut dengan nama operasi tangkap tawon (OTT). (Baca: Musnahkan Sarang Tawon, Ini yang Harus Dihadapi Petugas Damkar Klaten)

Pemusnahan sarang tawon dari laporan yang diterima tak bisa dilakukan sembarangan lantaran besarnya ukuran sarang serta banyaknya tawon. Rata-rata ukuran sarang tawon yang dimusnahkan sudah berdiameter 60 sentimeter dan berisi ribuan tawon.

Jenis tawon yang ditangani sebagian besar tawon gung yang sengatannya bisa berefek badan panas serta pusing. “Contoh kasus di Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, itu hingga ada korban anak meninggal dunia karena saking banyaknya tawon yang menyengat,” ungkap Eddy.

Tak jarang petugas Damkar disengat tawon. Bahkan, saat awal-awal menangani laporan serangan tawon gung, ada dua petugas Damkar yang harus dilarikan ke rumah sakit lantaran banyaknya sengatan tawon di kepala dan wajah setelah masuk melalui masker serta helm.

Soal tren laporan, Eddy mengatakan sempat menurun pada Agustus-September. Namun, laporan kembali meningkat sejak Oktober seiring memasuki musim hujan. (Baca: Damkar Klaten Kebanjiran Permintaan Pemusnahan Sarang Tawon)

Beragam metode pemusnahan sarang tawon dilakukan para petugas Unit Damkar yang mayoritas merupakan tenaga harian lepas (THL) itu. Improvisasi dilakukan lantaran belum ada seragam khusus yang aman dari sengatan tawon. Begitu pula ilmu penanganan tawon yang awalnya masih minim.

Awalnya, untuk memusnahkan sarang tawon mereka menggunakan mantol guna melindungi tubuh dari sengatan. Namun, sengatan tawon gung menembus mantol hingga mereka memanfaatkan pakaian alat pelindung diri (APD) yang biasa digunakan saat pemadaman kebakaran lantaran lebih tebal.

Bermodal browsing di Internet serta menjajal beragam cara pemusnahan sarang tawon, petugas Damkar Klaten mulai menemukan metode penanganan. Selain APD, mereka mengenakan sebo berbahan polar hingga tiga lapis, helm, serta masker agar tak diserang tawon.

Mereka juga memanfaatkan blower yang biasa digunakan mengisap asap saat penanganan kebakaran dimanfaatkan untuk mengisap tawon. Petugas unit Damkar pun membentuk tim OTT.

Tim yang terdiri atas delapan orang dari 26 personel Damkar itu dibentuk lantaran pengalaman mereka memusnahkan sarang tawon. Saban pemusnahan sarang tawon, minimal enam petugas Damkar terlibat dengan tugas beragam.

“Ada yang menjadi eksekutor ada pula yang memetakan risiko medan. Kami lakukan metode-metode untuk mengurangi sekecil mungkin risiko ke petugasnya serta dampak ke masyarakat,” katanya.

Selain membuat metode penanganan, para petugas Damkar juga berinisiatif konsultasi ke berbagai pihak seperti BKSDA hingga dosen Biologi untuk memastikan cara mereka memusnahkan tawon tak mengganggu ekosistem. “Ternyata populasi tawon sangat cepat. Menurut mereka tidak masalah kalau dimusnahkan,” urai dia.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…