Mariam, pedagang sayuran di Pasar Prambanan sedang memotong ujung wortel agar sayuran tersebut lebih awet, Senin (13/11/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 13 November 2017 23:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Musim Hujan, Pendapatan Pedagang Sayuran Turun

Keuntungan yang diperoleh pedagang sayuran menurun seiring musim hujan yang terjadi saat ini

Solopos.com, JOGJA-Keuntungan yang diperoleh pedagang sayuran menurun seiring musim hujan yang terjadi saat ini. Setidaknya penurunan yang dialami mencapai hampir 50%.

Mariam, pedagang sayuran di Pasar Prambanan, Sleman, mengatakan pada hari biasa atau di luar musim hujan, pendapatannya minimal Rp500.000 per hari.

Namun, saat musim hujan seperti sekarang menurun sampai Rp300.000 per hari. Hal tersebut disebabkan harga sayuran yang semakin hari semakin naik, sementara kualitas sayurannya menurun. “Wortel yang biasanya tahan seminggu sekarang cuma tahan dua tiga hari,” katanya, Senin (13/11/2017).

Untuk itu, agar wortel mampu bertahan lama, ia memotongi ujung-ujung wortel. Ia menghilangkan akar yang masih ada pada wortel agar keesokan harinya dapat dijual lagi.

Mariam mengakui pasokan sayuran di pasaran semakin sulit karena sayuran yang ada di petani mudah busuk. Melihat kondisi itu, ia tidak
serta merta menaikkan keuntungannya.

“Saya ambil keuntungannya ya tetap sama [dengan musim kemarau] tapi nyetok barangnya yang dikurangi, biar enggak banyak rugi,” ujarnya.

Ia membeli satu kilogram (kg) wortel dari petani dengan harga Rp6.000 dan kemudian ia jual kepada konsumen di pasar sekitar Rp10.000 per kg.

Ia mengakui, hampir semua jenis sayuran mengalami kenaikan harga. Saat ini, harga brokoli menembus Rp25.000 per kg, bunga kol Rp20.000, kubis Rp5.000, dan tomat besar Rp10.000 per kg. Selain itu, cabai rawit juga sudah merangkak naik mencapai Rp25.000 per kg, sementara cabai keriting merah Rp35.000.

“Akeh uwong ewuh dadi mundak [banyak orang punya hajat jadi harganya cabai rawit naik],” kata Mariam.

Sementara komoditas daging ayam juga mengalami kenaikan. Prapti, pedagang daging ayam broiler di Pasar Prambanan mengatakan, sejak tiga hari lalu daging ayam naik dari Rp29.000 menjadi Rp30.000 per kg. Ia juga mengatakan kenaikan harga daging ayam disebabkan banyak orang yang sedang menggelar hajatan sehingga permintaan daging ayam meningkat.

Ia menyampaikan, harga daging ayam yang naik turun kerap terjadi menjelang akhir tahun. Selain karena hajatan, liburan anak sekolah,
libur Natal, dan pergantian tahun turut andil membuat harga semua komoditas bahan pangan naik.

Dalam sehari, Prapti mampu menjual minimal satu kuintal daging. Pelanggannya adalah kalangan rumah tangga dan juga pengusaha kuliner.

“Kalau hujan, hidupnya [ayam] kan juga sulit. Gampang penyakitan,” kata Prapti. Hal ini membuat jumlah pasokan ayam siap konsumsi menjadi berkurang dan harganya melambung tinggi.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…