Pengendara sepeda motor melintas di kawasan Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (7/9/2017). Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunda uji coba penerapan kebijakan pembatasan motor dari Thamrin hingga Sudirman. (JIBI/Solopos/Antara/Muhammad Adimaja)
Senin, 13 November 2017 19:30 WIB Juli ER Manalu/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

Korlantas Pertanyakan Niat Anies Baswedan Cabut Larangan Motor di Jakarta

Kakorlantas mempertanyakan rencana Anies Baswedan mencabut larangan sepeda motor melintas di sejumlah jalan di Jakarta.

Solopos.com, JAKARTA — Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Irjen Pol Royke Lumowa tidak setuju dengan rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang hendak mencabut larangan sepeda motor melintas di Jl. Jenderal Sudirman hingga M.H. Thamrin. Larangan itu diterapkan pada era gubernur sebelumnya.

Menurutnya, mengizinkan pemotor untuk melintas di jalur tersebut berarti tidak mendukung pembudayaan penggunaan transportasi umum. “Kalau motor boleh diberlakukan melintas di sana sama saja tidak membudayakan,” katanya, Senin (13/11/2017).

Dia menambahkan timbulnya tiap kebijakan seharusnya ada faktor sebab dan akibatnya. Dia juga mengaku yakin Pemprov DKI telah mempertimbangkan faktor-faktor yang ada. Namun, dia masih belum mengetahui apa alasan Anies mewacanakan kebijakan tersebut.

Terlepas dari hal tersebut, menurutnya untuk kota besar seperti Jakarta mengedepankan penggunaan transportasi umum harus menjadi yang utama. “Ya kalau itu mengenyampingkan angkutan umum gak setuju, tetap harus mengutamakan angkutan umum, angkutan umum harus dibesarkan,” tegasnya.

Selain membudayakan transportasi umum, ukuran kendaraan juga menjadi perhatian lain. Penggunaan transportasi massal yang bisa mengangkut banyak orang sekaligus juga dianggap menjadi solusi seperti penggunaan bus-bus besar atau kereta api dengan daya tampung gerbong lebih besar.

“Terus, nomor dua adalah kendaraan umum harus dibesarkan seperti dulu di zaman Hindia-Belanda. Dulu kita banyak kereta api, banyak rel kereta api, tapi di zaman Orde Lama ditinggalkan, diteruskan dengan zaman Orde Baru,” tambahnya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…