Seorang petugas pemeriksa jalan (PPJ) tampak menyeberangi rel di dekat Stasiun Wates, Kulonprogo, usai melakukan pantauan kondisi jalur kereta api, Senin (27/6/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Seorang petugas pemeriksa jalan (PPJ) tampak menyeberangi rel di dekat Stasiun Wates, Kulonprogo, seusai melakukan pantauan kondisi jalur kereta api, Senin (27/6/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Senin, 13 November 2017 12:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Jalur Kereta Bandara Baru Bakal Terabas Persawahan

Seperlima tanah terdampak rencana pembangunan rel adalah tanah bengkok.

Solopos.com, KULONPROGO— Seperlima wilayah terdampak pembangunan jalur rel kereta api yang terintegrasi dengan New Yogyakarta International Airport (NYIA), di Desa Kalidengen, Kecamatan Temon, Kulonprogo merupakan tanah bengkok alias plungguh.

Kepala Desa Kalidengen, Sunardi, mengatakan bahwa, wilayah desa yang kemungkinan terkena jalur rel itu merupakan lahan persawahan. Sunardi menyatakan, ia belum bisa menyebutkan jumlah pasti keseluruhan lahan terdampak pembangunan jalur rel, karena sampai sekarang belum ada sosialisasi maupun penetapan lokasi pembangunan rel, baik dari PT Angkasa Pura I maupun pihak terkait lainnya. Namun diperkirakan ada sekitar lebih dari satu kilometer lahan di Kalidengen, yang sempat diukur oleh tim proyek rel ini, merupakan Dusun Kalidengen 2 dan Dusun Sidatan. Untuk tanah bengkok sendiri, ada sepanjang sekitar 400 meter, dengan lebar 25 meter.

“Untuk luasan tanahnya, belum diketahui secara persis, peta geografis juga belum ada. Jadi kami masih belum bisa mengajukan pendataan tanah yang terkena proyek rel,” kata dia, Minggu (12/11/2017).

Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daops VI Jogja, Eko Budiyanto menuturkan, tahapan pembangunan rel kereta NYIA ini masih terus berlangsung dan memasuki tahapan pemetaan. Pengukuran di lapangan belum berlanjut, selain itu proses sosialisasi kepada warga yang tinggal di wilayah terdampak pembangunan rel juga belum dilakukan. Namun rel pendukung NYIA itu telah dipastikan akan dibangun.

“Kami menunggu realisasi pembangunan fisik NYIA mencapai 75 atau 80 persen, baru rel ini dimulai. KAI tidak sendirian, melainkan bersama Dirjen [Dirjen Perkeretaapian Kemenhub RI] dan PT Angkasa Pura I juga,” paparnya

Sebelumnya, Direktur Teknik PT Angkasa Pura I, Polana B Pramesti, pada Oktober lalu mengatakan, proyek kereta terintegrasi NYIA itu membutuhkan lahan untuk jalurnya, seluas 20-25 hektare. PT KAI disebutnya sudah melakukan rancang letak stasiun, studi level tanah, serta perencanaan trase jalur. Setelah tahapan itu tuntas, maka tahapan selanjutnya adalah penetapan dan pembebasan lahan.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…