Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/dokumen)
Senin, 13 November 2017 08:20 WIB Jumali/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Inilah Wujud Rasa Persaudaraan Pemain PSIM Jogja untuk Kiper Tito

Kiper Tito Rama Maydike mengalami cedera pada lutut

Solopos.com, JOGJA-Rasa persaudaraan dan kepedulian tinggi ditunjukkan para pemain PSIM Jogja musim 2017. Mereka beramai-ramau melelang jersey guna membantu pengobatan kiper Tito Rama Maydike yang mengalami cedera pada lutut.

Setidaknya ada beberapa pemain yang menggelar lelang di antaranya Taufik, Supriyadi, Andi Dwi Kurniawan, Raymond Tauntu, Dimas Priambodo dan Engkus Kuswaha. Mereka mengunggah secara bersamaan tentang aksi lelang itu melalui media sosial instagram.

Kepada Harian Jogja, Minggu (12/11/2017), salah satu pemain PSIM Engkus Kuswaha mengaku gerakan lelang jersey sengaja digelar para punggawa Laskar Mataram. Nilai yang didapatkan dari lelang jersey ini diharapkan upaya yang dilakukan oleh para punggawa PSIM ini mampu membantu biaya operasi Anterior Cruciate Ligament (ACL) di RS dr Sardjito, beberapa waktu lalu.

“Mungkin rata-rata semua anak PSIM bantu lelang jersey, Mas. Kalau saya memang niat murni membantu Tito yang cedera lutut. Sesama saudara kami mau membantu dengan melelang jersey. Sedikit tapi mungkin bisa membantu,” kata Engkus.

Selain pemain, dalam perkembangannya, kemarin sejumlah pihak pencinta PSIM pun berusaha melakukan pencarian dana guna membantu biaya operasi Tito Rama. Mereka juga melakukan pencarian dana dengan melakukan penjualan poster. “Kami akan menjual poster ukuran A3 seharga minimal Rp10.000 per poster,” kata akun instagram @livemataram.

Tito sendiri mengalami cedera saat menjalani laga di putaran kedua fase grup Liga 2 2017. Kiper muda itu absen panjang dan mengakhiri kompetisi dengan cepat. Kali terakhir, Tito juga harus menjalani operasi pada ligamen ACL di RS dr Sardjito, beberapa waktu lalu. Alhasil, Tito pun dipastikan harus menepi selama enam bulan untuk pemulihan atas cedera yang dialami.

Dihubungi terpisah, Tito Rama mengakui biaya operasi pada ligamen ACL yang dijalaninya pada 30 September lalu sejatinya telah dikabarkan ke pihak manajemen PSIM. Akan tetapi, belum ada kejelasan kapan manajemen akan memberikan bantuan biaya operasi. Padahal, besaran operasi yang harus ditanggung Tito cukup besar yakni Rp60,5 juta.

“Alhasil, saya dan keluarga mengusahakan sendiri. Sementara saya bayar separuh dulu. Karena jika tidak dibayarkan separuh terlebih dahulu, saya tidak boleh pulang. Sementara, dari manajemen belum ada kejelasan. Mereka hanya mengatakan sebelum dan sesudah operasi bahwa nanti berkabar saja,” ucap Tito.

Disinggung mengenai kemungkinan penggunaan asuransi, Tito mengungkapkan bahwa operasi yang dilakukannya belum bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Sebab, BPJS Kesehatan hanya menyediakan ruang perawatan kelas dua, dan saat operasi Tito mau tidak mau harus naik dua kelas untuk ruang perawatan. “Namun, saya sedang usahakan membuat surat agar ini bisa diklaimkan. Meski peluangnya kecil. Sampai saat ini sendiri saya masih menunggu kejelasan dari manajemen juga,” ungkap Tito.

Sekretaris PSIM Jarot Sri Kastawa mengaku belum bisa berkomentar perihal cedera dan operasi yang dilakukan Tito Rama. Hal ini dikarenakan pihaknya juga masih menunggu rapat dengan personel manajemen lainnya. “Karena sampai saat ini kami belum bertemu dengan yang lainnya,” ucapnya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…