Para pengurus dan sesepuh Brigata Curva Sud menunjukkan surat pernyataan dan dukungan terhadap Baryadi, eks manajer Sriwijaya FC untuk dijadikan Manajer PSS musim depan di RM Pesona Pingka, Minggu (12/11/2017) siang. (Harian Jogja/Jumali) Para pengurus dan sesepuh Brigata Curva Sud menunjukkan surat pernyataan dan dukungan terhadap Baryadi, eks manajer Sriwijaya FC untuk dijadikan Manajer PSS musim depan di RM Pesona Pingka, Minggu (12/11/2017) siang. (Harian Jogja/Jumali)
Senin, 13 November 2017 13:20 WIB Jumali/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

BCS Ajukan Mantan Manajer Sriwijaya FC Tangani PSS

Baryadi diharapkan mampu membawa PSS Sleman lolos ke Liga 1 musim depan

Solopos.com, SLEMAN-Kelompok suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS) akhirnya mengajukan satu nama, Baryadi untuk menduduki posisi sebagai calon manajer tim skuat Super Elang Jawa musim depan.

Sosok eks Manajer Sriwijaya FC ini dinilai tepat menangani tim PSS musim depan, mengingat rekam jejaknya dalam persepakbolaan nasional yang cukup baik. Baryadi sempat membawa Sriwijaya FC di level tertinggi Liga Indonesia, menjuarai Liga sebanyak dua kali, satu kali juara Copa Indonesia serta mengikuti Liga Champion Asia.

“Selain itu, beliau juga orang Sleman. Ia tinggal di Pakem. Kami juga sudah bertemu dengan beliau dan telah menyatakan siap jika terpilih sebagai manajer,” ujar Koordinator BCS Zulfikar, Minggu (12/11/2017) siang.

Ia mengungkapkan, sebelum mengajukan nama Baryadi sebagai calon manajer, BCS telah menggelar Forum Perwakilan Sezione dan wilayah, Kamis (10/11/2017) malam di Pendopo Rumah Bupati Kabupaten Sleman. Dari Forum tersebut telah disepakati dan menunjuk Baryadi sebagai manajer PSS Sleman 2018.

Penunjukan ini juga didasari dengan tuntutan untuk membenahi tata kelola manajerial, bekerja secara profesional dan membawa PSS Sleman lolos ke Liga 1 musim depan. “Oleh karenanya, kami meminta secara tegas PT PSS untuk memberikan mandat sepenuhnya kepada beliau agar dapat bekerja secara maksimal dan profesional,” terangnya.

Sementara di tempat sama, sesepuh BCS Jaguar Tominangi mengungkapkan, meski mengajukan nama Baryadi sebagai calon tunggal manajer musim depan, bukan berarti kinerjanya tidak akan terpantau. BCS berjanji akan tetap mengawal kinerja dari Baryadi selaku manajer jika nantinya terpilih. “Karena beliau juga sudah menyampaikan pemaparan ke pihak PT juga. Kami akan kawal, sejauh mana kinerjanya nanti,” paparnya.

Menurut pria yang akrab di panggil Jenggo ini, keinginan BCS dan semua elemen pendukung PSS sudah bulat pada musim depan agar dapat promosi ke Liga 1. Kegagalan PSS menembus ke babak delapan besar pada musim ini pun telah dievaluasi bersama oleh BCS. “Alhasil, kami melihat kinerja manajemen PSS tidak maksimal. Ada jurang pemisah antara PT PSS dengan manajemen tim yang menyebabkan di lapangan tidak maksimal,” tandasnya.

Selain itu, Jenggo memaparkan, tidak ada keseriusan dan kemauan dari PT PSS bersama pemegang saham untuk merealisasikan target PSS ke Liga 1. Tingginya antusiasme animo pecinta PSS dipastikan berdampak positif terhadap besarnya pendapatan PSS, dengan rata-rata pendapatan kotor Rp700 juta per pertandingan. Selain itu, masih ditambah pemasukan dari pihak sponsor yang seharusnya dapat menjadi modal besar mencapai target lolos ke Liga 1.

“Untuk itu, setelah kegagalan demi kegagalan, kami tidak ingin euforia dan antusiasme pecinta PSS Sleman hanya menjadi sapi perah setiap tahunnya. Karena menurut kami PT PSS saat ini dipegang oleh orang-orang yang tidak mengerti sepak bola dan hanya berorientasi bisnis. Oleh karenanya, kami mendesak adanya SDM yang mengerti dan paham tentang sepak bola, dan berani berkomitmen membawa PSS Sleman ke Liga 1,” ucapnya.

Salah satu pemegang saham sekaligus komisaris di PT PSS Pustopo mengungkapkan, siapa saja boleh diajukan menjadi calon manajer PSS musim 2018. Meski demikian, calon yang diajukan harus mampu memenuhi standart dari PT PSS. “Dan oleh karena itu, kami persilakan mereka mengajukan. Nanti biar diseleksi, karena semua ada standartnya,” ucapnya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…