Petani menunjukan tanaman cabai yang tidak laku dijual karena kering sebelum waktunya dipanen, Kedon, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo). Petani menunjukan tanaman cabai yang tidak laku dijual karena kering sebelum waktunya dipanen, Kedon, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo).
Senin, 13 November 2017 07:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Alamak, Gara-Gara Ini Hasil Panen Petani Cabai Bantul Turun Drastis

Sugiarto mengaku mengalami penurunan hasil panen hingga 50%

Solopos.com, BANTUL-Petani cabai di Kedon, Sumbermulyo, Bambanglipuro alami penurunan hasil panen karena pencemaran air sungai. Air yang biasa menjadi sumber irigasi tersebut bercampur dengan sampah plastik dan berbagai sampah lainnya.

Salah seorang petani cabai Sugiarto mengaku mengalami penurunan hasil panen hingga 50%. “Hasil panen menurun gara-gara air sungai yang dipakai irigasi ini. Luasan 400 meter kalau normal bisa 1,5 kuintal, ini hanya separuhnya saja,” ujar dia, Minggu (12/11/2017).

Dia mengatakan, cabai yang ia tanam menjadi layu lebih cepat. Hal itu, menurutnya, karena perubahan sampah yang ada di sungai. “Dulu sampahnya dari kotoran manusia, itu malah jadi pupuk. Sekarang baterai, grenjeng, sampah plastik, logam macam-macam
itu bikin hasil buruk,” ucapnya.

Pencemaran itu semakin diperparah ketika memasuki musim hujan. Saat ini dia dan kelompok tani Mandiri nya masih belum bisa mengatasi permasalahan pencemaran itu. Petani cabai itu berharap agar masyarakat tidak sembarangan membuang sampah terlebih ke sungai karena hal itu nantinya juga merugikan masyarakat yang akan membeli dari hasil pertanian.

Pemerhati sungai Endang Rohjiani mengungkapkan, kondisi sungai yang mengalir di Bantul dapat dibilang tidak bagus. Hal tersebut semakin diperparah posisi Bantul yang berada di hilir.

Hal itu juga diperparah oleh masyarakat sendiri yang sering membuang sampah sembarangan sehingga kualitas air buruk. “Dengan metode biotilik di kawasan sungai Bantul masuk dalam kondisi cukup berat pencemarannya,”ujarnya.

Selain berpengaruh pada kualitas air, ia mengatakan, sampah-sampah itu dapat juga menyumbat sungai maupun irigasi sehingga pengairan tidak lancar. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi sungai itu menurutnya dengan dilakukan Merti Kali.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…