Canon Photomarathon Suasana sesi lomba foto Canon PhotoMarathon Indonesi 2016 di kota Jakarta. (IST/Dok Canon)
Senin, 13 November 2017 15:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

1.842 Peserta Berpartisipasi dalam Canon Photomarathon di Jogja

Datascrip kembali menggelar kompetisi fotografi Canon Photomarathon Indonesia ketujuh di Jogja

Solopos.com, JOGJA-Datascrip kembali menggelar kompetisi fotografi Canon Photomarathon Indonesia ketujuh di Jogja. Acara yang dilaksakan pada Minggu (12/11/2017) di Jogja Expo Center (JEC) ini diikuti oleh 1.842 peserta dari kategori pelajar dan umum.

Acara ini bertujuan memberikan ruang berekspresi bagi fotografer Jogja dan sekitarnya untuk berkompetisi membidik gambar terbaik.

Dalam ajang ini, peserta saling berkompetisi membidik gambar terbaik sesuai tema yang diangkat yaitu tema lucu, kontras, dan sejauh mata memandang. Peserta diberi batasan waktu untuk berburu foto dan mengunggah hasil foto terbaiknya yang akan dilombakan.

Foto kemudian diseleksi langsung oleh para juri profesional nasional. Pemenang berhak membawa pulang kamera DSLR Canon EOS 750D beserta lensa Canon EF-S 18-55 milimeter.

Selain itu, pemenang berhak mengikuti trip ke Jepang bersama juara umum dari Jakarta mewakili Indonesia untuk berkompetisi dengan juara utama dari negara-negara penyelenggara Canon PhotoMarathon Asia 2017 di Jepang.

Acara ini sukses menarik pecinta foto di Jogja. Tidak hanya peserta dewasa, anak-anak dengan peserta termuda kelahiran 2012 juga turut serta dalam kompetisi fotografi ini.

Marketing Manager Datascrip, Yase Defirsa Cory mengatakan sejak digelar pada 2011 di Jogja, Canon Photomarathon Indonesia sangat diminati pecinta foto.

Antusias pecinta fotografi di Jogja sangat tinggi dan komunitas fotografinya aktif. Jika dilihat dari bisnis kamera, penjualan di Jogja juga mampu berkontribusi sampai 10%.

“Untuk sekelas kota Jogja, kontribusi 10 persen itu besar. Pasar utama memang masih Jakarta,” katanya pada awak media, Minggu (12/11/2017).

Yase mengatakan, maraknya tren membidik gambar menggunakan smartphone dan mengunggahnya di media sosial, turut meningkatkan bisnis penjualan kamera di PT Datascrip terutama untuk produk kamera digital.

“Pangsa pasar kita adalah digital kamera. Penggunanya dibagi dalam dua kategori, profesional dan hobi. Pasar hobi ini yang sampai andil 70 persen,” kata Yase.

Market share untuk kamera digital DSLR pada kuartal III 2017 mampu menembus 67%. Menjelang akhir tahun, perputaran penjualan Canon semakin bergerak naik setelah pada dua periode sebelumnya stagnan karena kondisi ekonomi yang belum stabil.

Ia mengakui, hobi fotografi memang tidak rugi untuk zaman sekarang. Selain bisa mengapresiasi diri, bagi yang hanya sekadar iseng pun bisa dikembangkan sebagai pekerjaan freelance, terlebih bagi yang menjadikan fotografi sebagai pekerjaannya.

Saat ini, fotografi dimanfaatkan dalam sektor apapun, seperti kehumasan. Hal tersebut turut menunjang permintaan kamera di PT Datascrip.

Dalam ajang Canon Photomarathon Indonesia di Jogja kemarin, PT Datascrip juga memberikan penghargaan kepada sejumlah media partner, salah satunya Harian Jogja. Canon Division Director PT Datascrip, Merry Harun menyampaikan, selain sebagai ajang silaturahmi antarsesama fotografer, peserta bisa mendapatkan berbagai ilmu menarik.

“Pada penyelenggaraan Canon Photomarathon Indonesia ketujuh ini, Justin Mott, fotografer berkaliber internasional hadir dan berbagi ilmu fotografinya secara langsung dengan para peserta,” katanya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…