Ilustrasi pembacokan (dnaindia.com) Ilustrasi pembacokan (dnaindia.com)
Minggu, 12 November 2017 20:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Waspada, Pembacokan Terjadi Lagi di Bantul

Akhir-akhir ini marak kasus pembacokan dengan sasaran pengguna jalan di wilayah Kabupaten Bantul

Solopos.com, BANTUL-Peristiwa pembacokan terjadi lagi Minggu (12/11/2017) sekitar pukul 02.30 WIB. Kali ini terjadi Jetis dengan korban seorang pelajar.

Kapolsek Jetis AKP S Parmin mengatakan, akhir-akhir ini marak kasus pembacokan dengan sasaran pengguna jalan di wilayah Kabupaten Bantul yaitu di Desa Sungapan, Kecamatan Sedayu dan di Kecamatan Sewon dalam waktu yang hampir bersamaan. Hingga kini belum diketahui pelakunya.

Kasus terbaru, Wilfan Candra, 16, seorang pelajar warga Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis roboh setelah terkena sabetan clurit di punggungnya saat melintas di sisi barat perempatan Bakulan. Kasus pembacokan tersebut berlangsung sangat cepat. Sebelum peristiwa terjadi, korban dan sejumlah rekannya memacu motornya dari Jalan Barongan-Bakulan atau arah Jalan Parangtritis.

Sebelum sampai perempatan Bakulan, korban sempat berpapasan dengan dua orang pengendara motor. Namun, korban tidak curiga dan mengira mereka sebagai pengguna jalan lainnya. Setelah berpapasan dengan korban, pelaku malah justru berbalik arah dan langsung mengejar korban.

Panik, korban pun melarikan diri ke arah barat, melintasi perempatan Bakulan ke barat. Korban bermaksud untuk meminta tolong kepada warga penjual pecel yang ada tidak jauh dari perempatan Bakulan. Namun, belum sempat meminta tolong, pelaku sudah menendang korban hingga jatuh. Setelah itu pelaku langsung menghunus clurit dan menyerang korban secara brutal.

“Perkelahian tidak seimbang ini menyebabkan korban luka di bagian pundak akibat tebasan clurit. Melihat korbannya tidak berdaya dengan darah terus mengucur, pelaku pun kabur ke arah utara,” ucap Parmin.

Namun, Parmin menyebutkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, antara korban dan pelaku sama sekali tidak saling kenal. Diketahui juga meskipun pelaku berjumlah empat orang dan menaiki dua motor secara berboncengan, yang menyerang korban hanya dua orang saja.

Parmin menuturkan, hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan meminta keterangan sejumlah saksi. “Kami belum tahu motif pastinya itu apa. Tetapi korban dan pelaku itu tidak saling kenal,” ucap dia.

Beberapa waktu yang lalu, Kapolres Bantul AKBP Imam Kabut Sariadi membantah beberapa kasus kekerasan yang marak akhir-akhir ini di Bantul merupakan kasus klitih. Sebab, dari beberapa kejadian teridentifikasi antara korban dan pelaku sudah saling kenal.

Imam juga mengaku telah mengambil tindakan preventif dan preemtif untuk mengatasi persoalan ini. Pihaknya berjanji akan memperkuat rayonisasi dengan meningkatkan eskalasi patroli titik kumpul anak muda yang disinyalir rawan tindak kekerasan.

Contohnya di Stadion Sultan Agung Bantul, pertigaan Cepit-Tembi dan wilayah Kecamatan Banguntapan. Pihaknya juga bakal menugaskan Bhabinkamtibmas untuk mengambil langkah pencegahan di tingkat desa. “Patroli nantinya akan kami evaluasi karena lokasi rawan biasanya berpindah-pindah,” pungkasnya.

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…