Jembatan penghubung dua dusun yakni Sungapan dan Bakal Dukuh, Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir dan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara) Jembatan penghubung dua dusun yakni Sungapan dan Bakal Dukuh, Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir dan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara)
Minggu, 12 November 2017 21:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Walah, Jembatan Penghubung Dusun di Bantul Rusak Berat

Mobil dan kendaraan besar harus memutar melalui Jalan Wates sejauh hampir tiga kilometer

Solopos.com, BANTUL-Jembatan penghubung Dusun Sungapan dan Bakal Dukuh, Kecamatan Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir. Kini, jembatan tersebut hanya bisa dilalui sepeda motor saja. Mobil dan kendaraan besar harus memutar melalui Jalan Wates sejauh hampir tiga kilometer.

Dilihat dari strukturnya, jembatan yang melintang di atas Sungai Konteng ini merupakan bangunan lama. Bagian dasar jembatan selebar 3,5 meter tersebut tersusun dari balok kayu. Dari hasil pantauan Harian Jogja di lapangan, balok kayu penyusun jembatan tersebut telah lapuk.

Bahkan beberapa bagian dibiarkan berlubang dan sebagian lainnya ditutup menggunakan kayu atau plat besi. Tanda bahaya dipasang pada ujung jembatan agar mobil tidak melintas. Sebab kondisi lapuknya kayu dikhawatirkan akan berbahaya dilintasi kendaraan besar.

Salah seorang warga setempat Santoso mengatakan, beberapa bagian kayu yang lapuk pernah diperbaiki oleh warga, sebagian diganti pemerintah sekitar tiga tahun lalu. Namun, hasil perbaikan itu tidak bertahan lama sebab kayu lainnya satu persatu secara bergantian mengalami kerusakan.

Santoso berharap Pemkab Bantul tidak hanya merenovasi jembatan sepanjang 20 meter tersebut, tetapi menggantinya dengan konstruksi baru yang lebih kuat. “Tambah parah, takut runtuh sewaktu-waktu. Apalagi sekarang musim hujan,” kata dia, Minggu (12/11/2017).

Kepala Dusun Bakal Dukuh Sriyono membenarkan rehab jembatan yang dilakukan Pemkab Bantul pada tahun 2013 tersebut seakan sia-sia. Pasalnya, kini hampir seluruh kayu telah lapuk dan kekuatan penopang jembatan hanya berasal dari sisa rangka besi dan aspal. Ia menilai penggantian kayu tidak efektif, sehingga perbaikan total harus segera dilakukan.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…