Logo Rifka Annisa (Indorelawan.org) Logo Rifka Annisa (Indorelawan.org)
Minggu, 12 November 2017 22:20 WIB Gunung Kidul Share :

Rifka Annisa, Bersama Membangun Sekolah Aman di Gunungkidul

Berdasarkan kasus yang ditangani Rifka Annisa, selama Januari-September 2017, terdapat 19 kasus kekerasan terhadap anak dan remaja

Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Peran sekolah dalam mencegah dan menangani tindak kekerasan di sekolah sangatlah penting. Oleh karena itu, Rifka Annisa, lembaga yang bekerja untuk perlindungan perempuan dan anak mengadakan seminar bertema Bersama Membangun Sekolah Aman di Aula lantai II Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Senin (13/11/2017).

Koordinator Acara Niken Anggrek Wulan mengatakan, dalam seminar yang dihadiri sekitar 100 guru dan peserta didik tingkat SMA/SMK dan SMP di Gunungkidul itu akan mengupas tentang pentingnya sistem berbasis sekolah untuk pencegahan dan penanganan tindak kekerasan di sekolah. “Sekolah ibarat rumah kedua bagi anak dan remaja. Karena selain di rumah, anak paling banyak menghabiskan waktunya di sekolah,” jelas dia dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Minggu (12/11/2017).

Perempuan yang menjabat staf Divisi Humas dan Media di Rifka Annisa ini menuturkan, berdasarkan kasus yang ditangani Rifka Annisa, selama Januari-September 2017, terdapat 19 kasus kekerasan terhadap anak dan remaja. Adapun usia korban 5-17 tahun. Dari total kasus anak dan remaja tersebut, terdapat sembilan kasus kekerasan seksual di wilayah Gunungkidul. Usia korban mulai dari 5 tahun, 8 tahun, dan sebagian besar adalah usia remaja rentang 13-17 tahun, di mana para remaja ini masih bersekolah.

“Itu belum termasuk kekerasan yang belum terlapor dan jenis kekerasan lain seperti kekerasan fisik dan psikis yang terjadi pada anak. Saat ini, kekerasan masih merupakan fenomena gunung es,” tambahnya.

Ia menjelaskan, ketika anak atau remaja menjadi pelaku kekerasan, biasanya hal itu karena buruknya pengasuhan atau adanya permasalahan seperti KDRT di rumahnya. Sehingga, anak rentan mencari penghargaan atas dirinya dari hal-hal yang negatif. Masyarakat dan sekolah perlu mencermati hal ini, bahwa sebenarnya anak juga merupakan korban dari lingkungannya.

Pendekatan dalam penanganannya adalah penanganan yang rehabilitatif, dan memperhatikan hak anak. Selain itu, pencegahannya juga perlu dilakukan secara komprehensif, melibatkan semua pihak, baik di sekolah maupun masyarakat.

Meski kekerasan terhadap remaja masih menjadi PR bersama, telah banyak praktik baik yang dilakukan sekolah terkait pencegahan dan penanganan kekerasan. Upaya tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari peserta didik, pendidikan, tenaga pendidikan,
serta orangtua. “Praktik baik yang sudah dilakukan diperluas, dengan cara disosialisasikan secara maksimal, sehingga lebih banyak sekolah yang tergerak. Salah satunya lewat seminar ini,” jelas Niken.

Dalam seminar akan dihadirkan empat narasumber yang menyampaikan mater dalam diskusi panel. Pertama, materi tentang Mendorong Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan oleh Sugiran dari UPTD SKB Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul.

Panelis kedua yakni Basuki selaku Kepala Sekolah SMK Negeri I Ngawen, yang memaparkan tentang pentingnya sistem pencegahan dan penanganan tindak kekerasan berbasis sekolah. Materi ketiga disampaikan Indiah Wahyu Andari, selaku Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa. Ia akan memaparkan tentang dinamika psikokogis korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual dan pentingnya peran sekolah dalam mencegah terjadinya kekerasan tersebut.

Sesi diskusi panel diakhiri dengan materi tentang pentingnya peran pendidik sebaya dalam pencegahan kekerasan, yang disampaikan Defirentia One M, Manajer Program Rifka Annisa. Ia akan menyampaikan pentingnya melibatkan murid dalam pencegahan kekerasan di sekolah serta memaparkan pengalaman Rifka Annisa dan empat sekolah di Gunungkidul dalam membangun tim pendidik sebaya untuk pencegahan kekerasan.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…