Para pemain Persis Solo menjalani sesi latihan di Stadion Muda Jaya Bekasi sehari jelang laga kontra Kalteng Putra di babak delapan besar Liga 2, Sabtu (11/11/2017) sore. (JIBI/Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
Minggu, 12 November 2017 23:25 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Indonesia Share :

PERSIS SOLO
Sanksi Selesai, Lima Pemain Siap All Out

Persis Solo tampil di babak 8 besar Liga 2.

Solopos.com, BEKASI – Lima pemain Persis Solo tidak bisa memperkuat tim di laga perdana babak delapan besar menghadapi Martapura FC setelah mendapat sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Ketiadaan lima pemain itu berpengaruh terhadap kekuatan tim sehingga Laskar Sambernyawa dipaksa takluk dengan skor 0-1 dari wakil Kalimantan Selatan itu.

Empat dari lima pemain itu mendapat sanksi dilarang tampil satu laga atas dugaan protes berlebihan kepada wasit saat Persis Solo bertandang ke markas Cilegon United pada Oktober lalu. Empat pemain itu adalah kapten M. Wahyu, Irkham Zahrul Mila, Hendry Aprilianto dan Agung Supriyanto. Sementara satu pemain yakni Asyraq Ghufron harus absen karena hukuman akumulasi kartu kuning.

Melawan Kalteng Putra di laga kedua di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, lima penggawa Persis Solo itu sudah bisa diturunkan. Kehadiran mereka tentu bakal menguatkan tim.

“Kami bersyukur karena sudah bisa main menghadapi Kalteng Putra. Sudah pasti kami akan tampil all out untuk meraih kemenangan,” kata M. Wahyu saat ditemui wartawan di Hotel The Green Bekasi, Minggu (12/11/2017).

Hal senada juga disampaikan Agung Supriyanto. Dia menyesal tidak bisa memperkuat tim saat menghadapi Martapura FC. Menurutnya, semua pemain sudah tak lagi memikirkan kekalahan di laga perdana.

“Kami sudah melupakan pertandingan pertama. Sekarang kami bersemangat menyongsong laga kedua. Mudah-mudahan kami diberi keberuntungan untuk memenangi pertandingan melawan Kalteng Putra,” papar eks pemain Persija Jakarta ini yang pernah masuk skuat Timnas U-23 ini.

Baik M. Wahyu maupun Agung mengaku tidak pernah memprotes berlebihan kepada wasit seperti yang ditudingkan selama ini. Bahkan, M. Wahyu merasa sedikitpun tidak menyentuh wasit. Namun, mereka dituding memprotes wasit sambil mendorong tubuh sang pengadil lapangan.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…