Persiapan pergantian prajurit jaga di Puro Pakualaman, Sabtu (11/10/2017). (Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja) Persiapan pergantian prajurit jaga di Puro Pakualaman, Sabtu (11/10/2017). (Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 12 November 2017 05:20 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pergantian Prajurit di Pura Pakualaman Jadi Atraksi Wisata di Jogja

Atraksi budaya dan prosesi pergantian prajurit di Pura Pakualaman diminati pecinta fotografi

Solopos.com, JOGJA — Atraksi budaya dan prosesi pergantian prajurit di Pura Pakualaman diminati pecinta fotografi, Sabtu (11/10/2017).

Acara yang diminati pecinta fotografer itu bertajuk Atraksi Wisata Budaya Pergantian Bregada Jaga Kadipaten Pakualaman itu digelar setiap  Sabtu Kliwon. Artinya setiap 35 hari sekali,  prajurit Pakualaman melakukan serah terima tugas penjagaan istana. Adapun prajurit yang berganti tugas ialah Prajurit Plangkir dan Prajurit Lombok Abang.

Perbedaan mencolok antara kedua prajurit milik Pakualaman itu terletak pada seragamnya. Untuk prajurit Plangkir, warna hitam menjadi warna utama dan untuk Prajurit Lombok Abang warna merah menjadi warna utamanya.

Adapun perbedaan lainnya pada seragamnya, Pasukan Plangkir memiliki motif Infanteri Inggris itu, sedangkan untuk Prajurit Lombok Abang mengenakan pakaian dan topi lancip berwarna merah.

Dipilihnya Sabtu Kliwon ialah bentuk perayaan hari lahirnya Pakualam ke X. Awalnya pelaksanaan pergantian ini hanya boleh disaksikan oleh keluarga Pakualaman. Namun saat ini seluruh rakyat bisa melihat pergantian prajurit bersama seni tradisional yang ditampilkan.

Salah satu pecinta fotografi yang hadir, Noor Patria, 35, menilai bahwa prosesi  pergantian penjaga ini memang cocok untuk dijadikan wisata untuk pecinta fotografi seperti dirinya. Pasalnya bagi pria asal Surabaya itu, acara prosesi pergantian ini baru pertama kali ini dilihatnya. “Bagus kalau dibuka untuk umum, apalagi untuk orang yang hobinya fotografi seperti saya,”kata Patria.

Sebelumnya Patria hanya telah melihat pasukan berputar di sekitaran Puro Pakualaman. Adapun rasa penasaran mulai tumbuh setelah mengetahui prajurit yang berkeliling di sekitar Pakualaman itu adalah bagian dari  prosesi pergantian prajurit. “Ya ini saya dengan teman saya langsung belok ke arah Pakualaman, eh kok waktu lewat pas ada acara lagi,” ujarnya.

Menurutnya acara seperti ini adalah alasan Patria untuk melanjutkan program pascasarjana di UGM. Menurutnya di wilayah Surabaya tidak ada kegiatan serupa. “Makanya saya memilih Jogja,  kalau di Jogja bisa memotret acara budaya,”  ujar pria yang datang bersama teman pecinta fotografi juga.

Menanggapi hal tersebut Ketua Pelaksana Atraksi Wisata Budaya Pergantian Bregada Jaga Kadipaten Pakualaman, Agoes Kencrot mengakui bahwa dengan banyaknya pecinta foto yang datang merupakan keuntungan bagi acara itu.

Menurutnya orang yang mengabadikan dan membagi momen pergantian prajurit itu adalah sebuah ajang promosi tambahan. “Kami ingin budayanya bertahan, sekaligus kesenian yang hadir bisa ikut maju bersama,” pria yang akrab dipanggil Kencrot.

Menurut Kencrot, acara tersebut bertujuan untuk mempertahankan kebudayaan yang ada ada di DIY. Di mana setiap Sabtu Kliwon itu, setidaknya lima pengisi dari lima kabupaten kota DIY diikutsertakan. Begitu juga kriteria pengisi acara, tidak ada kriteria tertentu untuk penpamil.

“Jadi kami disini memberi ruang kepada mereka, namun ketika selesai akan kami berikan saran, misal Jatilan kami berikan penilaian bagaimana harusnya bikin koreo, atraksi apa yang ditambah, ya harus kreatif memang,” imbuh Kencro

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…