Jembatan penghubung dua dusun yakni Sungapan dan Bakal Dukuh, Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir dan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara) Jembatan penghubung dua dusun yakni Sungapan dan Bakal Dukuh, Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir dan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara)
Minggu, 12 November 2017 23:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Kini Rusak Parah, Jembatan di Bantul Ini Dibangun 32 Tahun Lalu

Jembatan tersebut dibangun Pemkab Bantul pada 1985

Solopos.com, BANTUL-Jembatan penghubung Dusun Sungapan dan Bakal Dukuh, Kecamatan Sedayu rusak berat sejak setahun terakhir. Rupanya, jembatan ini sudah dibangun 32 tahun lalu.

Kepala Dusun Bakal Dukuh Sriyono menjelaskan, jembatan tersebut dibangun Pemkab Bantul pada 1985. Semenjak dibangun, jembatan yang menghubungkan dua dusun itu menjadi jalur efektif bagi warga di delapan pedusunan di sisi timur dan enam pedukuhan di sisi barat.

Bahkan, menjadi jalur favorit bagi truk-truk pengangkut pasir dari Sungai Progo. Perputaran roda ekonomi menurutnya menjadi semakin cepat karena akses jalan tidak harus memutar melewati Jalan Wates. “Itu jalur wisata juga, dari wilayah barat mau wisata ke Bantul lewat sini juga. Apalagi jalan itu jalan sejarah yang dilewati gerilya Jendral Sudirman,” ungkap dia, Minggu (12/11/2017).

Baca juga : Waduh jembatan ini rusak berat

Kerusakan itu menurutnya sudah berulangkali dilaporkan kepada Pemkab Bantul. Terakhir, pihaknya mendapat jawaban jembatan akan diperbaiki total pada tahun 2018 mendatang. Alasannya, menurut Sriyono, Pemkab belum dapat menganggarkan perbaikan jembatan tersebut 2017 ini. “Katanya sudah mulai digambar bentuk jembatannya, kalau anggarannya kemarin di atas 500 juta,” paparnya.

Pengajuan perbaikan jembatan tersebut diamini oleh Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Budi Karyanto. Ia mengatakan, DPUPKP Bantul telah menyiapkan usulan tersebut untuk dimasukkan dalam APBD 2018 mendatang dengan pagu anggaran mencapai miliar rupiah. “Kalau 2017 ini tidak cukup waktu,” ujar dia.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…