Suasana sosialisasi Perpres No.17/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia di Bangsal Sewokoprojo, Jumat (10/11/2017). (Harian Jogja/David Kurniawan) Suasana sosialisasi Perpres No.17/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia di Bangsal Sewokoprojo, Jumat (10/11/2017). (Harian Jogja/David Kurniawan)
Minggu, 12 November 2017 11:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Jangan Remehkan Sampah Plasik di Lautan

Persoalan sampah bisa menjadi hambatan terkait dengan mimpi Indonesia sebagai poros maritim dunia

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Permasalahan sampah plastik di lautan masih menjadi persoalan untuk mewujudkan mimpi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Persoalan ini tidak bisa diremehkan.

Hal tersebut disampaikan Asisten Deputi Bidang Hukum dan Perjanjian Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Budi Purwanto saat melakukan sosialisasi Peraturan Presiden No.16/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia di Bangsal Sewokoprojo, Jumat (10/11/2017). Persoalan sampah bisa menjadi hambatan terkait dengan mimpi itu.

Oleh karena itu, Kementerian Bidang Kemaritiman fokus untuk mengatasi persoalan tersebut. “Tujuan dari sosialisasi ini salah satunya adalah untuk mengatasi persoalan sampah. Apalagi kita menduduki peringkat kedua penghasil dalam hal penghasil sampah plastic terbesar di dunia,” kata Budi kepada wartawan, Jumat (10/11/2017).

Untuk mereduksi sampah plastik butuh komitmen dan kerja sama semua pihak. Oleh karena itu, sosialisasi tentang Perpres tersebut juga menghadirkan pihak sekolah di Gunungkidul. Tujuannya, agar sekolah sadar terkait dengan masalah ini dan mulai membuat gerakan bebas sampah plastik.

“Sekolah memiliki peranan penting karena merupakan lembaga yang mencetak generasi masa depan. Jadi untuk kampanye ini sangat cocok untuk dimulai dari sekolah,” tuturnya.

Budi menejelaskan, persoalan sampah plastik tidak hanya membuat polusi lingkungan, khususnya di laut. Efek jangka panjang dari permasalahan ini juga dapat berdampak ke manusia seperti terganggunnya pertumbuhan anak hingga potensi terserang penyakit kanker semakin tinggi.

“Ini bisa terjadi saat ikan yang dimakan mengandung plastik sehingga bisa terpapar ke manusia. Celakanya, hingga sekarang setiap tahunnya ratusan ribu ikan mati karena memakan sampah plastik yang bertebaran di lautan Indonesia,” terang dia.

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…