Tabung liquified petroleum gas (LPG) nonsubsidi jenis Bright Gas produksi PT Pertamina (Persero) ditata dalam kegiatan promosi di Bawen, Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (17/3/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Tabung liquified petroleum gas (LPG) nonsubsidi jenis Bright Gas produksi PT Pertamina (Persero) ditata dalam kegiatan promosi di Bawen, Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (17/3/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Minggu, 12 November 2017 19:30 WIB Yoseph Pencawan/JIBI/Bisnis Ekonomi Share :

Harga Bright Gas & Elpiji 12 Kg Naik, Agen Dilarang Jual Kemahalan

Harga Brigt Gas 5,5 kg dan elpiji 12 kg naik. Namun agen dan pangkalan dilarang menjual lebih mahal dari ketentuan.

Solopos.com, MEDAN — Harga elpiji non subsidi, yaitu 5,5 kg dan 12 kg, telah naik. Hal ini diiringi kelangkaan elpiji bersubsidi, yaitu kemasan 3 kg, di pasaran.

Rudi Ariffianto Area Manager Communication & Relations Pertamina MOR I mengungkapkan, mulai 8 November Pertamina menaikkan harga gas elpiji non subsidi, yakni Rp5.000 untuk Bright Gas 5,5 kg dan Rp10.000 untuk tabung 12 kg. “Kepada agen dan pangkalan, jangan menjualnya melebih dari kenaikan harga itu,” ujar di Medan, Sabtu (11/11/2017).

Rudi memaparkan, elpiji 12 kg dan Bright Gas 5,5 kg merupakan produk non subsidi dan Berdasarkan Permen Nomor 26/2009, penetapan harga diserahkan kepada badan usaha. Badan usaha diberikan kewenangan oleh Pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga.

Namun, penyesuaian tersebut tidak selalu naik, tetapi juga bisa turun. Buktinya, kata dia, pada September 2015 dan Januari 2016 Pertamina pernah menurunkan harga produk non subsidi cukup signifikan. Ketika itu penurunannya sampai sekitar Rp5.800.

Adapun penentuan harga elpiji non subsidi sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Dari sekitar 7 juta metrik ton elpiji yang disalurkan Pertamina, sekitar 5 juta metrik ton bersumber dari impor sehingga penentuan harganya sangat dipengaruhi oleh Contract Price (CP) Saudi Aramco. Dan faktor kedua adalah kurs Rupiah terhadap Dolar.

Dia menegaskan, Pertamina memang tidak berwenang untuk menindak langsung pangkalan atau pengecer dalam pelanggaran harga penjualan gas elpiji, baik subsidi maupun non subsidi.

“Kalau ada pangkalan yang bandel, stok elpiji agen yang menaunginya bisa kami potong dan agen itu tentunya akan ikut memangkas stok pangkalan yang bersangkutan.”

Dalam beberapa waktu terakhir, harga CP Aramco naik US$70-US$80 per metrik ton dari range harga awal sekitar US$490–US$580. Pada saat bersamaan, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah tren melemah, dengan range Rp13.500-Rp13.600. “Dua-duanya sedang tidak menguntungkan bagi kami.”

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…