Pemateri menyampaikan kuliah dalam seminar nasional matematik di FMIPA UNY, Sabtu (11/11/2017). (Foto : IST/Humas FMIPA UNY) Pemateri menyampaikan kuliah dalam seminar nasional matematik di FMIPA UNY, Sabtu (11/11/2017). (Foto : IST/Humas FMIPA UNY)
Minggu, 12 November 2017 07:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Guru Matematika Jangan Sekedar Terapkan Rumus

Pembelajaran matematika berbasis rumus masih sering menjadi problem di kalangan siswa

Solopos.com, SLEMAN – Pembelajaran matematika berbasis rumus masih sering menjadi problem di kalangan siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Guru dituntut agar tidak sekedar menerapkan rumus yang prosedural namun juga mampu memberi pemahaman kepada siswa tentang latar belakang rumus yang diajarkan.

Berbagai masalah pembelajaran matematika dibahas dalam seminar nasional bertajuk Membudayakan Literasi Matematika di Era Digital, di FMIPA UNY, Sabtu (11/11/2017).

Ali Mahmudi Ketua Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY menilai pembelajaran matematika lebih bersifat menyesuaikan mekanisme. Guru hanya menjelaskan rumus matematika secara prosedural namun tidak diikuti dengan penjelasan asal muasal rumus itu diperoleh.

Padahal yang informasi tentang bagaimana rumus itu didapatkan menjadi sangat penting bagi siswa, sehingga matematika bukan semata-mata menerapkan rumus. Selain itu, kata dia, matematika bukan hanya sekedar kemampuan berhitung, namun juga identifikasi masalah, mencari solusi dan menginterprestasikan masalah sebenarnya termasuk matematika.

“Banyak pembelajaran yang masih menekankan pada kemampuan berhitung saja, itu memang bagian dari matematika, tetapi bukan tujuan utama. Perhitungan itu harusnya hanya dijadikan supaya siswa mengetahui, kok bisa seperti ini apa alasannya,” ungkapnya saat diwawancara di sela-sela seminar, Sabtu (11/11/2017).

Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kreativitas agar menjadikan proses pembelajaran matematika menjadi bermakna. Sehingga siswa memahami kebermanfaatan materi tersebut baik untuk kehidupan sehari-hari maupun keterkaitan dengan mata pelajaran lain.

Selain itu, siswa harus diajak mencari rumus tersebut dapat diperoleh dan diterapkan, bukan hanya sekedar mengerjakan dan menerapkan rumus.

“Tetapi diajak untuk menelusuri mengapa rumus itu diterapkan, ada nggak rumus lain yang sesuai, mengajak siswa berpikir terbuka, itu kemampuan matematika juga,” kata dia.

Ia menambahkan, guru juga perlu memiliki penguasaan teknologi informasi dan komputer sehingga dapat diterapkan dalam proses pembelajaran matematika. Karena saat ini banyak aplikasi teknologi yang dapat memperkaya pembelajaran matematika sehingga lebih variatif.

Jika sebelumnya, butuh waktu lama untuk menentukan rumus secara manual dengan menuliskan di papan tulis, namun saat ini lebih dipercepat karena teknologi.

Akantetapi, perlu diingat teknologi hanya sebagai alat untuk membantu, adapun tujuan utama pembelajaran matematika tetap harus untuk  mengembangkan kemampuan berfikir yang baik.

Dosen Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM Edi Winarko menyatakan, matematika menjadi salah satu pelajaran terpenting yang harus dikuasai siswa untuk meraih sukses masa depan.

Namun seringkali mata pelajaran ini justru sering tidak disukai dan terasa menakutkan bagi siswa di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Amerika dan Inggris pun mengalami hal yang sama. Oleh karena itu, guru harus membuat pembelajaran menyenangkan yang saat ini banyak ditemukan aplikasi maupun games yang membantu memudahkan memahami konsep matematika hingga latihan soal.

Tantangan yang harus dihadapi, kata  Edi, antara lain, banyaknya aplikasi matematika yang menggunakan bahasa Inggris sehingga diperlukan usaha ekstra dari guru. Selain itu pemilihan dan penerapan sumberdaya TIK harus sesuai dengan kebutuhan materi yang diajarkan.

“Penggunaan TIK juga menuntut perubahan peran dan cara guru dalam menyampaikan materi, guru diharapkan menjadi fasilitator siswa baik di dalam maupun luar kelas. Apalagi paradigma baru menuntut pembelajaran terpusat ke siswa, interaktif, bersifat menyelidiki, berbasis tim dan stimulasi ke segala indera,” terang dia.

Seminar itu diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan guru berbagai jenjang pendidikan, mahasiswa dan dosen. Ada puluhan makalah yang dibahas dalam seminar tersebut.

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…