Pasangan Eko Margono dan Ernawati seusai membeli sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc di diler Kawasaki Ponorogo. (Istimewa/Instagram Kawasaki_Madiun) Pasangan Eko Margono dan Ernawati seusai membeli sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc di diler Kawasaki Ponorogo. (Istimewa/Instagram Kawasaki_Madiun)
Minggu, 12 November 2017 23:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

FOTO VIRAL
Uang Logam Rp42 Juta Warga Magetan untuk Bayar Kawasaki Beratnya Lebih 100 Kg

Foto viral, uang koin senilai Rp42 juta yang digunakan untuk membeli sepeda motor Kawasaki Ninja diperkirakan seberat 100 kg.

Solopos.com, PONOROGO — Foto pasutri asal Magetan yang membeli sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc dengan menggunakan uang logam senilai Rp42 juta viral di media sosial. Lantas bagaimana karyawan diler menerima pembelian sepeda motor dengan uang logam senilai Rp42 juta yang beratnya diperkirakan mencapai 100 kg?

Pemilik Diler Kawasaki Ponorogo Madiun dan Ngawi, Heru Airlangga, mengatakan sempat ragu saat pasangan Eko Margono dan Ernawati hendak membeli sepeda motor sport itu dengan menggunakan uang logam senilai Rp42 juta. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya dirinya menerima pembelian sepeda motor itu dengan uang logam. (Baca: Penggiling Daging Beli Motor Ninja Pakai Uang Koin Rp42 Juta, Begini Cerita Lengkapnya)

“Awalnya saya ragu-ragu. Lalu saya berpikir apa pun itu customer itu raja. Makanya saya terima. Sesuai undang-undang di Indonesia, uang pecahan logam kan juga sebagai alat pembayaran yang sah. Makanya suka atau tidak suka harus saya terima,” kata dia, Minggu (12/11/2017).

Dia mengaku setelah menerima uang tersebut sempat kesulitan untuk menyetor uang itu ke bank. Akhirnya, uang receh tersebut ditukarkan ke teman-temannya sesama pengusaha atau pemilik toko yang membutuhkan uang kembalian.

Menurut dia, kalau dirinya menolak pembayaran menggunakan uang logam tersebut terlihat arogan. Padahal uang tersebut merupakan alat pembayaran yang sah sesuai aturan.

Heru menceritakan saat itu dirinya juga telah meminta Eko untuk memesan dengan menyetor sejumlah uang sebagai uang muka. Tetapi, Eko menolak dan berkukuh untuk membeli dengan cara cash setelah barangnya datang.

Setelah itu Heru berspekulasi memesan sepeda motor yang diinginkan Eko di Surabaya. “Setelah barangnya datang, Pak Eko kami hubungi dan dia datang untuk membayarnya,” ujar dia.

Uang logam yang dibawa Eko dikemas dalam plastik dan ditaruh dalam karung. Setibanya di diler, uang logam di karung itu kemudian diturunkan dan diangkat empat karyawannya. Tetapi empat karyawannya tidak kuat dan akhirnya uang logam itu diangkut menggunakan troli.

“Setelah dihitung, uang itu kemudian ditaruh di dalam bagasi mobil. Saat itu, bagian belakang mobil terlihat lebih rendah. Diperkirakan beratnya lebih dari 100 kg,” ujar dia.

 

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…