Film Bulu Mata (ffd.or.id)
Minggu, 12 November 2017 21:00 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Layar Share :

Bulu Mata, Film Transgender Karya Sineas Klaten Peraih Piala Citra

Sineas asal Klaten, Tonny Trimarsanto, tak percaya filmnya berjudul Bulu Mata meraih Piala Citra.

Solopos.com, SOLO — Festival Film Indonesia (FFI) 2017 telah berakhir dengan diumumkannya para penerima Piala Citra, di Grand Kawanua International City, Manado, Sabtu (11/11/2017) malam. Night Bus menjadi sebagai film terbaik, sedangkan Pengabdi Setan membawa pulang penghargaan paling banyak.

Di antara deretan kreator Ibu Kota, nama sutradara asal Klaten Tonny Trimarsanto masuk dalam daftar peraih piala bergengsi bagi sineas Tanah Air tersebut. Karyanya berjudul Bulu Mata terpilih menjadi Film Dokumenter Panjang Terbaik. Meski bukan penghargaan pertama, alumnus FISIP UNS ini tak menyangka berhasil mengungguli film lain dalam kategori tersebut.

“Saya enggak menyangka persaingannya sangat ketat. Film dokumenter panjang lainnya juga bagus. Saat terpilih menang saya berpikir ini jurinya luar biasa. Mereka memilih film dengan isu trans gender yang sangat sensirif di negara kita ini,” kata Tonny saat dihubungi Solopos.com, Minggu (12/11/2017).

Ini merupakan penghargaan ketiga bagi Bulu Mata. Sebelumnya diputar dalam festival film internasional di Kamboja, dan Festival Film Yogyakarta. Bulu Mata mengangkat isu minoritas di Kabupaten Bireun, Aceh, yang digarap 2016.

Tonny merekam kehidupan transgender dalam keterasingan di tanah kelahirannya sendiri. Mereka mengalami perundungan secara fisik maupun verbal dari lingkungan yang dianggap sebagai kota paling relijius dengan aturan syariat Islam. Meski mengangkat isu sensitif, ia tak mengalami kesulitan selama proses shooting. Para pemain yang terlibat sangat kooperatif.

Proses shooting dilakukan sejak 2015. Tonny bolak balik dari rumahnya di Klaten ke Aceh selama tiga sampai empat kali dan menghabiskan waktu hampir enam bulan. Ini bukanlah film transgender pertamanya.

Ia beberapa kali membuat film bertema isu sosial dan kaum minoritas seperti Renita Renita, Hari Yang Indah, dan Mangga Golek Matang di Pohon. Renita Renita bahkan memborong penghargaan pada 2007 sebagai Best Short Asia Film di 9th Cinemanila International Film Festival Philipines 2007, Con Can Short Film Festival Tokyo, dan pemenang film terbaik dalam Culture Unplugged Film Festival India 2010.

Meski tak pernah belajar film secara formal, Tony, merupakan sineas lama yang berulangkali membuat karya besar. Selain isu minoritas dan transgender ia selalu berpindah-pindah seting di berbagai wilayah se-Indonesia. Distribusi karyanya selama ini lebih banyak di kawasan Eropa. Tak terhitung penghargaan yang sudah diperoleh Tony sejak kali pertama terjun ke dunia film pada 1993.

“Tiga pekan lalu saya baru saja pulang dari Turki. Film saya diputar dalam salah satu festival film di sana,” kata Tonny.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…