Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), E.M. Sutrisna, menunjukkan buku ringkasan pidato yang akan disampaikan pada pengukuhan guru besar di Auditorium Muh. Djazman UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (11/11/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), E.M. Sutrisna, menunjukkan buku ringkasan pidato yang akan disampaikan pada pengukuhan guru besar di Auditorium Muh. Djazman UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (11/11/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Sabtu, 11 November 2017 10:00 WIB Iskandar/JIBI/Solopos Pendidikan Share :

Sutrisna Dikukuhkan Jadi Profesor Pertama di Fakultas Kedokteran UMS  

E.M. Sutrisna hari ini dikukuhkan sebagai guru besar FK UMS.

Solopos.com, SUKOHARJO — Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), E.M. Sutrisna, dikukuhkan menjadi guru besar bidang kedokteran, di Auditorium Mohamad Djazman UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (11/11/2017).

Sutrisna akan menjadi guru besar atau profesor pertama di Fakultas Kedokteran UMS. “Tapi kalau di tingkat universitas beliau menjadi guru besar ke-20 UMS,” ungkap Pejabat Humas UMS, Budi Santoso, pada konferensi pers di Kampus IV Fakultas Kedokteran UMS, Jumat, (10/11/2017).

Menyinggung riwayat pekerjaan, Sutrisna mengatakan setelah lulus sarjana ilmu kedokteran umum di Universitas Sebelas Maret Solo (UNS) 1993, dia mengawali karier menjadi dokter di Puskesmas Manyaran, Wonogiri, pada 1998. Setelah itu tahun 1999 hingga 2000 dia menjadi Kepala Puskesmas Karangtengah, Wonogiri.

Kemudian dia bergabung di UMS sejak tahun 2003 menjadi dosen di Fakultas Farmasi. Tahun 2013 dia pindah ke Fakultas Kedokteran. “Sejak tahun 2016 saya diamanahi menjadi Dekan Fakultas Kedokteran UMS hingga sekarang,” papar dia.

Sutrisna menjelaskan untuk meraih guru besar dirinya harus memenuhi berbagai persyaratan ketat. Persyaratan itu tidak hanya normatif tapi juga etika sebagai standar institusi masing-masing juga dipenuhi.

Dia mencontohkan secara normatif, kata dia, jabatan guru besar bisa diraih 45 persennya dengan menghasilkan berbagai karya penelitian yang diakui secara internasional dan angka kredit kumulatifnya harus mencapai jumlah tertentu.

“Alhamdulillah, saya bisa meraih guru besar dengan proses seleksi yang lancar walaupun agak lambat. Seharusnya 10 tahun setelah menjabat sebagai dosen bisa meraih gelar paripurna bidang akademik tersebut,” kata dia.

Sutrisna mengutarakan sebagai pertanggungjawaban ilmiah dia membawakan pidato pengukuhan guru besar berjudul Personalized Medicine sebagai Paradigma Baru dalam Pengobatan di Auditorium Muh. Djazman, kompleks UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu ini.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Banyak Pelajaran dari Gregoria

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/11/2017). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret dan tinggal di Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Hari-hari ini adalah periode…