Peserta seleksi perangkat desa dari sejumlah desa di Kecamatan Teras, Boyolali, berdialog dengan camat setempat, Jumat (10/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Peserta seleksi perangkat desa dari sejumlah desa di Kecamatan Teras, Boyolali, berdialog dengan camat setempat, Jumat (10/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Sabtu, 11 November 2017 06:35 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Peserta Seleksi Perangkat Desa Boyolali Malu Lihat Hasil Ujian Mereka

Para peserta seleksi perangkat desa Boyolali mengaku malu melihat hasil ujian mereka yang dinilai tak wajar.

Solopos.com, BOYOLALI — Seleksi perangkat desa (perdes) di Kecamatan Teras, Boyolali, dirasa penuh kejanggalan. Sejumlah peserta perdes yang tidak lolos seleksi mengungkapkan kejanggalan tersebut antara lain panitia hanya memoloskan satu peserta untuk masing-masing posisi.

Kondisi ini jelas menutup peluang bagi peserta lain untuk dipertimbangkan sebagai pengabdi masyarakat tersebut. Agar mereka tidak lolos seleksi, mereka dibuat tidak berdaya dengan hasil ujian yang jeblok. (Baca: Peserta Seleksi Perangkat Desa Boyolali Tuntut Panitia Buka-Bukaan)

Evi, salah satu peserta seleksi perdes asal Kadireso mengatakan nilai jeblok tak hanya membuatnya kecewa, namun juga malu. Sebagai seorang lulusan perguruan tinggi di Sukoharjo, dia hanya memperoleh nilai 2 (skala 100) untuk mata ujian Agama.

“Saya kuliah selama empat tahun di IAIN Kartasura masak hanya dapat nilai 2 untuk ujian Agama? Ini sangat memalukan. Apakah saya sedemikian bodohnya tentang ilmu agama?” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Kantor Kecamatan Teras, Jumat (10/11/2017).

Sementara itu, Sarmini, peserta lain dari desa yang sama mengungkapkan hal senada dengan Evi. Sarmini sangat malu mendapati nilai alias nol untuk tiga mata ujian. “Masak saya tidak mendapatkan nilai sedikit pun. Ini pasti ada yang tidak beres,” ujarnya tanpa memerinci tiga mata ujian yang nilainya nol itu. (Baca: Hasil Seleksi Perangkat Desa Boyolali Bisa Digugat ke PTUN)

Keduanya mendatangi Kantor Kecamatan Teras agar dipertemukan dengan panitia tim penguji perdes Teras. Evi, Sarmini, dan sejumlah peserta seleksi perdes lain meminta agar tim seleksi memberikan penjelasan atas kejanggalan-kejanggalan tersebut.

Sayangnya ketua tim penguji Sri Puji Muryani tidak berada di tempat hingga sore itu. Beberapa peserta yang mencoba menghubungi Puji via telepon mengatakan nomor ponsel Puji tidak aktif.

 

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Banyak Pelajaran dari Gregoria

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/11/2017). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret dan tinggal di Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Hari-hari ini adalah periode…