Suasana pada saat Jathilan Kuda Pranesa asal Gamping Tengah tampol di depan panggung VIP, dalam rangka memperingati hari Kasultanan Yogyakarta, di Taman Wisata Alam, Gunung Gamping Ambarketawang, Sleman, DIYogyakarta, Jumat (10/11/2017). (Maman Rachman/Harian Jogja) Suasana pada saat Jathilan Kuda Pranesa asal Gamping Tengah tampol di depan panggung VIP, dalam rangka memperingati hari Kasultanan Yogyakarta, di Taman Wisata Alam, Gunung Gamping Ambarketawang, Sleman, DIYogyakarta, Jumat (10/11/2017). (Maman Rachman/Harian Jogja)
Sabtu, 11 November 2017 18:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Disbud DIY Rintis Peringatan Perpindahan Pangeran Mangkubumi

Dinas Kebudayaan DIY menggelar acara pentas seni dengan tajuk Pawai Mangayubagya dan Peringatan Hari Bersejarah Kesultanan Yogyakarta

Solopos.com, SLEMAN–Untuk memperingati perpindahan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I) dari Pesanggrahan Ambarketawang menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Dinas Kebudayaan DIY menggelar acara pentas seni dengan tajuk Pawai Mangayubagya dan Peringatan Hari Bersejarah Kesultanan Yogyakarta.

Seperti tercatat dalam sejarah, setelah perjanjian Giyanti ditandatangi pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi berhasil mewujudkan impiannya untuk membangun ibu kota kerajaan di tempat yang saat ini dikenal dengan nama Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi memilih lokasi tersebut sebagai ibu kota Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat karena berada di antara enam sungai yang mengapit secara simetris, yakni Code, Winanga, Gajahwong, Progo, Bedog, dan Opak. Lalu disebelah utara terdapat Gunung Merapi dan di selatan ada Laut Selatan.

Dalam tradisi Hindu, wilayah dengan topografi demikian biasanya dipakai untuk tempat suci. Dari sana kemudian lahirlah konsep Hamemayu Hayuning Bawana yang merupakan peleburan antara ajaran Hindu dan Islam.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755. Proses pembangunan berlangsung selama setahun. Selama rentang waktu itulah Pangeran Mangkubumi bersama keluarga menetap sementara waktu di Pesanggrahan Ambarketawang.

“Tujuan acara ini adalah untuk mengingat sejarah kraton dan Yogyakarta secara umum. Tanggal 7 oktober adalah perpindahan Sri Sultan HB I dari Ambar Ketawang ke kraton yang sekarang. Juga biar masyarakat tahu kenapa sang raja memilih Jogja sebagai ibukota,” ucap Kepala Bidang Sejarah Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY Erlina Hidayati Sumardi.

Terkait dipilihnya Ambarketawang, ia mengatakan belum diketahui pasti apa alasannya. Tapi ada kemungkinan alasan kenapa Ambarketawang dipilih adalah ihwal pertahanan. Sebab Gunung Gamping menyerupai benteng yang melindungi posisi Pangeran Mangkubumi secara alamiah.

Pawai Mangayubagya dan Peringatan Hari Bersejarah Kesultanan Yogyakarta sendiri dilaksanakan di Taman Wisata Alam Gunung Gamping, Jumat (10/11/2017), dengan melibatkan ratusan orang, yang kebanyakan adalah warga lokal.

Ada berbagai tontonan yang disajikan, seperti pawai bregodo, Jathilan Kuda Pranesa, Reyog, Tari Sintren, Tari Nawung Sekar, Jathilan Jawa Klasik dan Wayang Hip-Hop.

Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra menambahkan, acara itu dibuat karena selama ini perpindahan yang bersejarah tersebut tidak pernah diperingati.

Orang-orang, imbuhnya, lebih banyak memperingati dan mengetahui tanggal 7 Oktober sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.

“Harapannya dengan adanya acara ini masyarakat tidak lupa sejarah, karena melalui sejarah, kita bisa menghargai warisan leluhur. Karena perlu diketahui Pangeran mangkubumi selain raja adalah seniman besar yang menciptakan berbagai karya seni, Sumbu Filosofi salah satunya. Beliau adalah sosok yang komplet,” ucapnya.

Widihasto menambahkan, Pawai Mangayubagya dan Peringatan Hari Bersejarah Kesultanan Yogyakarta sengaja di gelar berbarengan pada Hari Pahlawan karena Pangeran Mangkubumi juga merupakan salah satu pahlawan nasional yang dimiliki oleh Indonesia.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Banyak Pelajaran dari Gregoria

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/11/2017). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret dan tinggal di Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Hari-hari ini adalah periode…