Salah satu adegan dalam pementasan lakon "Mati Merga Warta" yang didedikasikan bagi wartawan Udin di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Sewon. Kamis (9/11/2017) malam. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Salah satu adegan dalam pementasan lakon "Mati Merga Warta" yang didedikasikan bagi wartawan Udin di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Sewon. Kamis (9/11/2017) malam. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 10 November 2017 14:55 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Pentas "Mati Merga Warta" Gelorakan Semangat Pengungkapan Kasus Wartawan Udin

Kisah tewasnya wartawan Udin diangkat dalam sebuah lakon fiksi

Solopos.com, BANTUL -21 tahun setelah meninggalnya Fuad Muhammad Syafruddin atau lebih dikenal dengan nama Udin, berbagai elemen berkolaborasi untuk pementasan teater di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Sewon.

Kisah tewasnya wartawan Udin diangkat dalam sebuah lakon fiksi garapan Teater Tebu yang juga melibatkan beberapa wartawan lokal Bantul.

Almarhum Udin adalah wartawan yang cukup vokal mengkritisi Orde Baru dan Pemda Bantul yang kala itu dianggap korup. Lewat penanya, wartawan SKH Bernas ini mengkritik keras kebijakan pemerintah, hingga akhirnya Udin dihabisi kemudian meninggal pada 16 Agustus 1996. Sepenggal kisahnya ini dituturkan dalam lakon “Mati Merga Warta” yang berdurasi 80 menit.

Dalam sambutannya Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jogja, Siyono mengakui berbagai langkah telah ditempuh kawan-kawan sejawat Udin untuk mengungkap kasus ini.

Bahkan hingga melibatkan Komnas HAM dan mengetuk berbagai lembaga pemerintahan lainnya. Namun hingga kini belum juga membuahkan hasil. Tapi menurutnya, kawan-kawan wartawan tak patah arang dan kini berkonsolidasi untuk mengajukan Udin sebagai pahlawan pers.

“Ibaratnya kita berjalan di jalan yang sunyi. Semangat harus selalu digelorakan,” ucapnya, Kamis (9/10/2017) malam.

Siyono menuturkan ada banyak hal yang dapat diteladani dari sosok Udin, terutama keteguhannya dalam memegang prinsip dan idealisme sebagai seorang wartawan. Semangat itulah yang menurutnya perlu ditiru oleh para wartawan lainnya.

Sementara itu, perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogja, Bambang Muryanto menyoroti hal lain. Ia memaparkan hasil kajian Committe to Protect Journalist yang menyatakan pada abad ini banyak terjadi kekerasan kepada wartawan yang sedang bertugas. Terakhir, wartawan AS James Foley dipenggal oleh ISIS saat meliput daerah konflik di Suriah.

Hasil kajian tersebut juga mengungkapkan wartawan yang rawan terkena kekerasan adalah mereka yang meliput daerah konflik dan bertugas di tingkat lokal. “Dalam skala nasional itu seperti kawan kita, Udin [wartawan lokal],” tuturnya.

Oleh sebab itu menurutnya, selain untuk merawat ingatan dan menggelorakan semangat para wartawan dalam mendorong pengungkapan kasus Udin, momen ini penting untuk meneguhkan kembali semangat menolak kekerasan kepada para wartawan maupun pekerja lainnya saat sedang menunaikan tugasnya.

Bambang menegaskan tidak boleh ada Udin Udin yang lain, yang merenggang nyawa karena amanat tugas yang diembannya.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Presiden Mantu, UKM Terbantu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (7/11/2017). Esai ini karya Suharno, dosen di Program Studi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi Solo. Alamat e-mail penulis adalah suharno_mm_akt@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi memang pribadi yang…