Warga menjajal river tubing di saluran irigasi Kapilaler kawasan objek wisata Kampung Babe, Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Kamis (9/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Warga menjajal river tubing di saluran irigasi Kapilaler kawasan objek wisata Kampung Babe, Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Kamis (9/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Jumat, 10 November 2017 07:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Objek Wisata Petualangan Air dan Outbound Klaten Ini Diklaim Ramah Difabel

Salah satu objek wisata di Karanganom, Klaten, dibuat ramag difabel.

Solopos.com, KLATEN — Pemerintah Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Klaten, meresmikan objek wisata di desa setempat, Kamis (9/11/2017). Objek wisata bernama Kampung Banyu Beku (Babe) itu menawarkan wisata air dan outbound.

Pengembangan Kampung Babe memanfaatkan lahan di bantaran  Sungai Wonggo sepanjang 1,5 km. Luas lahan yang digunakan untuk pengembangan itu sekitar 1 ha.

Wahana yang ditawarkan di antaranya arena outbond, flying fox, susur sungai menggunakan perahu, serta tubing. “Dulu hanya semak belukar. Kemudian kami garap dan survei beberapa kali dan alhamdulillah menjadi wahana wisata. Kami memanfaatkan aliran Sungai Wonggo dan saluran irigasi kapilaler,” kata Kepala Desa Beku, Muh. Mudrik, saat ditemui wartawan di sela-sela peresmian objek wisata, Kamis.

Mudrik mengatakan pengembangan wisata Kampung Babe sudah disiapkan sejak pertengahan 2016 melalui pemetaan potensi wisata. Pada 2017, pemerintah desa setempat mengalokasikan dana sekitar Rp200 juta dari dana desa untuk menggarap objek tersebut.

Salah satunya dengan membangun rumah panggung dengan mayoritas menggunakan bahan kayu. “Pengembangan pada 2018 rencananya dianggarkan Rp300 juta-Rp500 juta dari dana desa,” urai dia.

Mudrik menuturkan kawasan wisata itu dibuat agar ramah difabel. Ia mencontohkan jalur menuju kawasan wisata tak dibuat berundak agar penyandang disabilitas terutama mereka yang menggunakan kursi roda tetap leluasa mengakses kawasan outbond hingga bantaran sungai.

“Kawasan wisatanya kami buat seefektif mungkin hingga bisa dijangkau teman-teman difabel. Desa Beku menjadi salah satu pilot project desa pemberdayaan difabel. Proyek pembangunan objek wisata ini kami melibatkan difabel yang ada di desa,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Joko Wiyono, mengatakan belakangan desa-desa mulai mengembangkan diri menjadi desa wisata. Sebagian besar memanfaatkan potensi alam dan air yang ada di masing-masing wilayah.

“Tujuan dari wisata ini kan sama untuk peningkatan ekonomi yang muaranya pada kesejahteraan masyarakat. Kami akan bersinergi dengan Dinspermasdes, membina desa yang memiliki BUM desa dengan salah satu unit usahanya sektor wisata,” katanya.

Joko mengatakan desa-desa memiliki potensi sama bisa bekerja sama mempromosikan desa wisata. “Ada beberapa desa yang potensinya sama kami harapkan bisa seperti Desa Jimbung, Krakitan, dan Jomboran [program desapolitan] yang sudah bersinergi untuk melakukan promosi bersama,” katanya.

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Presiden Mantu, UKM Terbantu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (7/11/2017). Esai ini karya Suharno, dosen di Program Studi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi Solo. Alamat e-mail penulis adalah suharno_mm_akt@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi memang pribadi yang…