Lubang ozon di atas Antartika merupakan yang terkecil sejak 1988. (IST/NASA) Lubang ozon di atas Antartika merupakan yang terkecil sejak 1988. (IST/NASA)
Jumat, 10 November 2017 04:20 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Internasional Share :

Lubang Ozon Mengecil, Tapi Belum Pulih Benar?

Ukuran lubang ozon yang di bawah normal bukanlah tanda-tanda lapisan ozon pulih secepat yang diinginkan

Solopos.com, MARYLAND-Ukuran lubang ozon yang mengecil tidak langsung menjadi kabar gembira. Pasalnya, mengecilnya lubang ozon di atas Antartika tidak secepat yang diharapkan. Pengecilan lubang ozon ini hanyalah efek samping dari vorteks Antartika.

Dilansir dari Live Science, di atmosfere yang lebih atas, chlorofluorocarbons (CFCs) pecah, membebaskan klorin untuk bereaksi dengan molekul ozon. Sebuah reaksi yang membentuk oksigen dan klorin monoksida. Reaksi serupa terjadi dengan brom. Awan stratosfer kutub, yang terbentuk di suhu yang sangat dingin, mempercepat prosesnya dengan menyediakan permukaan untuk terjadinya reaksi. Itulah kenapa lubang ozon menjadi lebih buruk di musim dingin belahan bumi selatan.

Di sisi lain, suhu yang lebih tinggi di stratosfer memungkinkan ozon lebih stabil di atmosfer. Hal ini berarti, suhu tinggi tersebut menjaga lubang ozon lebih kecil dari tahun ke tahun. Tahun ini, pada 11 September, NASA mengukur pelebaran maksimal dari lubang 19,6 juta km persegi, 2,5 kali ukuran Amerika Serikat. Ukuran itu lebih kecil dibandingkan ukuran pada 2016, ketika pelebaran maksimalnya 22,2 juta km persegi, juga di bawah ukuran rata-rata. NASA mengungkapkan, rata-rata pelebaran maksimal dari libang ozon sejak 1991 sekitar 25,8 juta km persegi.

Baca juga : Wow, Lubang Ozon di Atas Antartika Mengecil

Namun, para ilmuwan mengatakan, ukuran lubang ozon dua tahun ini yang di bawah normal bukanlah tanda-tanda lapisan ozon pulih secepat yang diinginkan. Sebaliknya, ini adalah efek samping dari vorteks Antarktika yang merupakan sistem tekanan rendah yang berotasi searah jarum jam di atas benua paling selatan ini. Pusaran ini berlangsung beberapa tahun
dengan ketidakstabilan dan kehangatan yang mencegah pembentukan awan stratosfer kutub.

Dengan menggunakan alat spektrofotometer Dobson, para peneliti NASA mengawasi konsentrasi ozon di atas Antarktika secara rutin. Pada 25 September, konsentrasi ozon mencapai nilai minimum 136 Dobson Unit, yang merupakan nilai minimum tertinggi sejak 1988. Namun, konsentrasi itu masih rendah dibandingkan 1960an sebelum senyawa buatan manusia menyebabkan lubang ozon. Pada dekade itu, konsentrasi ozon di Antarktika antara 250 dan 350 Dobson Unit.

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…