Sejumlah mahasiswa seni dari UNY mementaskan cerita tentang Dewi Sri dalam rangkaian kegiatan Festival Dewi Sri di Dusun Plumbungan, Desa Putat, Patuk. Sabtu (18/3/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah mahasiswa seni dari UNY mementaskan cerita tentang Dewi Sri dalam rangkaian kegiatan Festival Dewi Sri di Dusun Plumbungan, Desa Putat, Patuk. Sabtu (18/3/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 9 November 2017 23:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Seniman Zaman Now Harus Rajin Putar Otak

Ciptakan pasar lewat Marketisme

Solopos.com, BANTUL— Gejala pertumbuhan seniman yang tak sebanding dengan jumlah penjualan dan minimnya pengelolaan karya seni, mendorong Prodi Tata kelola Seni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta menyelenggarakan Kelola Art Fest (KAF) dengan tema Marketisme. Kegiatan KAF ini merupakan yang kedua kalinya diadakan dengan Angkatan 15 sebagai panitianya.

Kurator KAF, Ahmad Fiki Wahyudi, menuturkan tema ini dipilih setelah melalui seleksi panjang dengan melihat gejala yang terjadi pada dunia kesenian akhir-akhir ini. Menurutnya gejala minimnya pasar, membuat para seniman yang tumbuh kini harus memutar otak dan meramu strategi untuk memasarkan karyanya.

Salah satunya dengan mengawinkan antara pameran dengan berbagai medium lain seperti workshop dan pengemasan karya yang berbeda. “Misalnya dijadikan satu dengan produk fashion atau art merchandise,” katanya saat jumpa pers, Kamis (9/11/2017).

Kreatifitas masing-masing seniman itu kemudian menimbulkan kontestasi, bukan hanya dalam mencipta karya namun juga dalam memasarkan karyanya. Hal itulah yang kemudian berusaha difasilitasi lewat KAF yang mengusung tema “Marketisme” ini. Menurut Fiki lewat berbagai macam kegiatan seperti bursa seni, pertunjukan seni, bazaar, diskusi dan workshop seni diharapkan dapat membuka ruang untuk mengomunikasikan produk kesenian hari ini.

Lebih lanjut, Fiki menjelaskan akan ada puluhan karya dari mahasiswa yang akan dipamerkan dalam KAF mulai Minggu (12/11/2017) hingga Sabtu (18/11/2017). Sebagian dari karya tersebut dapat dibeli namun sebagian lain hanya untuk dipamerkan. “Semua itu menggambarkan strategi seniman dalam menyiasati dunia kesenian saat ini,” katanya.

Sementara itu, dosen pengajar Taakelola Seni, Mike Susanto mengatakan KAF merupakan agenda tahunan yang melibatkan mahasiswa sebagai panitia penyelenggara. Ini sebagai salah satu bentuk pembelajaran bagi mahasiswa dalam menginisiasi dan mengelola sebuah hajat seni besar seperti pameran atau festival. Sebab kesuksesan sebuah festival dapat menjadi tolak ukur majunya dunia kesenian di daerah/kota tersebut. “Kalau festivalnya bagus, kotanya dipastikan juga bagus,” tuturnya.

Mike menambahkan, melalui penyelenggaraan KAF ini diharapkan mahasiswa dapat menciptakan sebuah festival yang tidak hanya jadi tontonan tapi juga tuntunan di dunia kesenian. Selain itu, pihaknya juga berharap mahasiswa mampu belajar seluk beluk penyelenggaraan sebuah hajat kesenian mulai dari hulu hingga hilir.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…