Ilustrasi sapi potong (Rachman/JIBI/Bisnis) Ilustrasi sapi potong (Rachman/JIBI/Bisnis)
Kamis, 9 November 2017 19:20 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Program Sapi Wajib Bunting Terkendala Penyakit Reproduksi

Pemkab Kulonprogo mengalami sejumlah kendala dalam pelaksanaan program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB)

Solopos.com, KULONPROGO -Pemkab Kulonprogo mengalami sejumlah kendala dalam pelaksanaan program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB). Gerakan pengembangan dan penanaman pakan berkualitas terus digalakkan sebagai solusi.

Sebanyak 16.800 ekor sapi di Kulonprogo menjadi sasaran program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) tahun 2017. Kepala Bidang Peterakan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulonprogo, Nursyamsu Hidayat mengaku belum bisa memenuhi target itu hingga awal November ini.

“Realisasi inseminasi buatan, kebuntingan sapi, serta kelahiran belum bisa mencapai 100 persen,” kata dia dalam workshop bertema “Peningkatan Koordinasi, Komunikasi, dan Diseminasi Teknologi bagi Penyuluh di Kulonprogo” di Aula UPTD Penyuluhan Pertanian Kulonprogo, Rabu (8/11/2017).

SIWAB sudah berjalan di seluruh kecamatan sejak awal tahun ini. Sebanyak 26 inseminator dikerahkah untuk menyukseskan program dari Kementerian Pertanian RI tersebut. Hingga Agustus lalu, SIWAB sudah menjangkau sekitar 12.000 ekor sapi di seluruh Kulonprogo.

Namun, jumlah itu tidak bertambah terlalu signifikan dalam beberapa bulan berikutnya. “Permasalahan yang dihadapi adalah banyaknya sebaran penyakit reproduksi. Penyakit yang mendominasi diantaranya hipofungsi ovarium, silent heat, dan endometritis,” ujar Nursyamsu.

Nursyamsu memaparkan, metode inseminasi buatan (IB) dinilai mampu meningkatkan produktivitas indukan sapi potong sehingga jadi andalan program SIWAB. Namun, kondisi alat reproduksi sapi harus dicek dulu.

Jika petugas inseminator menemukan adanya gangguan reproduksi, sapi bersangkutan akan menjalani perawatan. IB baru bisa dilakukan setelah alat reproduksinya dinyatakan normal dan sehat. Itulah mengapa keberadaan penyakit reproduksi dianggap menghambat program SIWAB.

Meski begitu, keberhasilan IB maupun SIWAB bukan hanya ditentukan oleh kondisi kesehatan alat reproduksi sapi. Dukungan dari kalangan peternak, terutama dalam penyediaan pakan berkualitas.

Nursyamsu lalu mengatakan, pihaknya masih terus berusaha mengajak para peternak untuk menggalakkan gerakan pengembangan dan penanaman pakan berkualitas. Mereka diarahkan untuk menanam pakan hijauan, misalnya tanaman indigofera.

Tanaman tersebut merupakan jenis leguminosa yang kaya akan protein dan kalsium yang mampu meningkatkan kualitas perkembangan ternak, termasuk terhadap pertambahan bobot. “Kalau gizinya cukup, kemungkinan berhasil jelas lebih tinggi,” ucap dia.

Workshop hari itu digelar bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jogja. Pesertanya terdiri dari para penyuluh bidang peternakan dan penyuluh swadaya sebanyak 30 orang.

Peneliti dan BPTP Jogja, Erna Winarti pun menegaskan mengenai pentingnya pakan berkualitas untuk mendorong capaian SIWAB.

“Pemberian pakan yang punya protein tinggi itu sangat penting. Hijauan yang menurut penelitian saat ini disebut memiliki protein tinggi dan baik untuk pertumbuhan ternak adalah indigofera dan rumput odot,” ungkap Erna.

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…