Badan Akreditasi Provinsi Ketua Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M), Subarjo, menyerahkan laporan hasil validasi akreditasi sekolah-sekolah di Jateng kepada anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), Toni Toharudin, di Gedung C Kantor Dinas P dan K Jateng, Semarang, Kamis (9/11/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Kamis, 9 November 2017 20:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PENDIDIKAN JATENG
Banyak Tenaga Pengajar di Jateng Tak Kompeten

Pendidikan di Jawa Tengah (Jateng), faktor penunjang berupa tenaga pendidik dan fasilitasnya masih belum memenuhi standar.

Solopos.com, SEMARANG – Kualitas pendidikan di Jawa Tengah (Jateng) masih terbilang rendah. Hal ini tak lain disebabkan banyaknya tenaga pengajar maupun fasilitas pendidikan, berupa sarana dan prasana (sarpras) di sekolah-sekolah, yang belum memenuhi standar pendidikan.

Hal itu terungkap saat Rapat Pleno Hasil Penetapan dan Rekomendasi Akreditas Anggaran APBN Tahap I 2017 yang digelar Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) Jateng di Gedung C Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Semarang, Kamis (9/11/2017).

Dalam laporannya, BAP-S/M menyebutkan dari 5.600 sekolah baik jenjang SD, SMP, SMA, SMK dan sederajat yang menjalani validasi akreditasi hanya lima di antaranya yang dinyatakan gagal atau tidak terakreditasi (TT). Dari lima sekolah yang tidak terakreditasi itu, tiga di antaranya merupakan sekolah yang menjadi kewenangan Kementerian Agama (Kemenag) atau madrasah, sementara dua di antaranya merupakan SD dan SMK.

Ketua BAP-S/M Jateng, Subarjo, menyebutkan meski hampir seluruh sekolah di Jateng telah terakreditasi, banyak yang di antaranya yang masih belum memenuhi standar. Kekurangan itu rata-rata terletak pada minimnya tenaga pengajar yang kompeten dan tidak tersedianya sarpras yang menunjang pendidikan siswa.

“Secara umum di Jateng semua sekolah sudah terakreditasi, baik A, B, atau C. Tapi, titik lemahnya ada pada tenaga pendidik dan sarana prasarana. Dari kami [BAP-S/M] akan memberikan rekomendasi ini ke dinas pendidikan maupun Kemenag. Semoga bisa ditindaklanjuti,” ujar Subarjo saat dijumpai Semarangpos.com seusai rapat.

Subarjo menyebutkan kekurangan yang ditemukan timnya di sektor tenaga kependidikan antara lain, masih minimnya tenaga administrasi terutama di SD dan MI. Selain itu, juga masih banyak ditemukannya tenaga pengajar atau guru yang belum bersertifikat.

“Oleh karena itu kami menyarankan agar pemerintah menambah kuota peserta PLPG [Pendidikan dan Latihan Profesi Guru],” beber Subarjo.

Sementara itu, kekurangan di bidang sarpras banyak ditemui dengan masih minimnya sekolah maupun madrasah yang memiliki ruang laboratorium maupun perpustakaan.

Sementara itu, salah seorang anggota BAP-S/M, Prof. Sunandar, membenarkan masih minimnya tenaga pengajar yang berkompeten di Jateng. Bahkan, ia menemukan tak jarang tenaga kependidikan di Jateng mengajar bidang yang tidak sesuai dengan ilmunya.

“Seperti contoh, lulusan teknik mengajar bahasa Jawa. Itu kan enggak nyambung dan tidak sesuai kompetensinya. Hal semacam itu masih banyak dijumpai,” ujar Sunandar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…