Pengunjung melihat karya seni rupa pada pameran Biennale Jogja XIV seri Equator ke-4 di Jogja National Museum, Wirobrajan, Yogyakarta, Kamis (02/11/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto) Pengunjung melihat karya seni rupa pada pameran Biennale Jogja XIV seri Equator ke-4 di Jogja National Museum, Wirobrajan, Yogyakarta, Kamis (02/11/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Kamis, 9 November 2017 05:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Keren, 4 Siswa SMSR Jogja Turut Ambil Bagian dalam Biennale

Empat siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogja dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 : Stage of Hopelessness (baca : Age of Hope)

Solopos.com, JOGJA –Salah satu karya dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 : Stage of Hopelessness (baca : Age of Hope), hajatan prestisius seni rupa di Indonesia, yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Curhat ternyata tak hanya dibuat sendiri oleh Farid Stevy Asta. Di dalamnya juga ada kontribusi empat siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogja.

Mereka adalah Raafi Artha Razak, Muhammad Aditia, Muhhamad Andhika Zuhdi Ramadhan dan Wijaseta Kisworo. Semuanya adalah siswa kelas 12 SMSR Jogja. Keterlibatan para remaja tersebut pada Biennale sudah dimulai sebelum acara tersebut resmi dibuka pada 2 November lalu. Tepatnya saat Festival Equator, yang menjadi pintu masuk pameran utama, berlangsung sejak 10 Oktober silam.

Festival Equator mengangkat tema Organizing Chaos atau kumpulan kekacauan yang tertata. Organizing Chaos ditempatkan sebagai upaya untuk memunculkan kesadaran baru melalui peristiwa yang tak wajar pada umumnya dan dilangsungkan pada ruang publik yang terlupakan, guna mengingatkan kembali momen-momen traumatik di masa lalu dengan mengaitkannya pada konteks Jogja hari ini.

Marketing Communication (Marcom) Biennale Jogja XIV Equator #4 : Stage of Hopelessness, Adrianus Nugroho yang diserahi tugas untuk membuat agenda tersebut tetap tersembunyi, dalam artian agar tidak diketahui bagian dari agenda Biennale, tapi di saat bersamaan mampu membuat masyarakat memikirkan kembali hal-hal yang dulunya dianggap remeh, mengajak empat pemuda tersebut karena mereka kebetulan sedang magang di Liberated Studio (libstud).

Raafi Artha Razak, Muhammad Aditia, Muhhamad Andhika Zuhdi Ramadhan dan Wijaseta Kisworo dapat bagian untuk membuat mural-mural ‘Biennale Banal’. Sebuah konsep yang menurut Adrianus terinsipasi dari banyaknya kebanalan di ruang publik yang tampil malu malu (kecil-kecil), dan itu tidak dipermasalahkan oleh masyarakat.

“[Kebanalan] itu digedein sampai orang bereaksi. Dan disitu kami coba melibatkan SMSR. Responnya lucu lucu. Misalnya mural, menerima jasa pembuatan skripsi dicoret ‘aku skrispi gawe dewe’. Sampai yang membuat Sex toys dan obat perangsang,” kata pria yang juga menjabat sebagai Marketing Libstud itu saat mengunjungi Kantor Redaksi Harian Jogja, Jalan AM Sangaji Rabu (8/11/2017).

Remaja-remaja itulah yang ditugaskan membuat mural-mural seronok itu. Untuk jualan jasa skripsi di buat di sekitaran daerah Universitas Gadjah Mada (UGM). Sedangkan Sex toys dibuat di Bugisan dan Kewek. Sebagai penutup, kata Adrianus, kebanalan tersebut kemudian ditutup dengan cat putih dan ditulisi “Terimakasih Jogja. Anda Masih Peduli”.

Kemudian mural-mural yang awalnya diguratkan di jalanan tersebut, dibawa ke ruang pameran di Jogja National Museum (JNM). Dan lahirlah karya Habis Gelap Terbitlah Curhat yang merupakan hasil kolaborasi seniman cum musisi, Farid Stevy Asta dan keempat siswa SMSR Jogja itu.

Farid yang juga merupakan vokalis grup musik FSTVLST mengatakan, karya itu dibuat selama tiga malam dan menghabiskan banyak sekali energi namun terasa menyenangkan. Karena dalam karyanya ia mengajak khalayak umum untuk turut berpartisipasi.

Habis Gelap Terbitlah Curhat merupakan karya yang memungut iklan-iklan tiang listrik dan celotehan ala media sosial. Misalnya, Jarene setia sampai mati. Jebul setia sampai kamar mandi tok; For God Shake. Please stop saying kids jaman now; Fotonya cantik kak, tapi pasti lebih cantik kalau pakai hijab dan lain-lain.

“Saya berusaha membuat karya partisipatoris dan karya millennial. Beberapa pekan sebelum pembukaan pameran, saya mengajak warganet komentar apapun. Dalam tiga hari sudah ada 1.500 respon. Kalau orang bilang selama ini sosial media itu maya. Namun, nyatanya banyak komentar serampangan itu benar adanya,” jelasnya.

Sementara itu, ketika ditanya bagaimana rasanya bisa ikut ambil bagian dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 : Stage of Hopelessness, Raafi Artha Razak mengatakan hal tersebut merupakan sebuah kebanggan tersendiri, “Seneng dan bangga bisa bantuin seniman sekelas Mas Farid,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…