keluarga imigran Afganistan. Keluarga imigran asal Afganistan tinggal selama sepekan lebih di warung mi ayam yang terletak di Jl. Hanoman Raya, Semarang, Selasa (7/11/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Kamis, 9 November 2017 13:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KASUS KEIMIGRASIAN
Tolak Keluarga asal Afganistan, Begini Penjelasan Rudenim Semarang...

Kasus keimigrasian dialami keluarga pengungsi asal Afganistan yang gagal mendapat suaka dari Rudenim Semarang.

Solopos.com, SEMARANG – Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang menolak permohonan satu keluarga asal Afganistan untuk memperoleh suaka. Bahkan, Rudenim mengusir keluarga asal Afganistan itu meskipun mereka telah berdiam diri selama satu pekan lebih di sebuah warung mi ayam yang terletak di Jl. Hanoman Raya, Semarang Utara, Selasa (7/11/2017).

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Semarang, Dwi Afando Farid, menjelaskan alasan pihaknya menolak keluarga pasangan Muhammad Hussein dan Qudsiah itu. Mereka berdalih Rudenim saat ini telah banyak menampung pengungsi dari berbagai negara hingga overkapasitas.

“Sekarang kapasitas di Rudenim itu hanya 60 orang, tapi yang tinggal sudah mencapai 120 orang lebih. Alasan inilah yang membuat kami tidak bisa menerima keluarga asal Afganistan itu,” tutur Farid saat dijumpai wartawan di Rudenim Semarang, Jl. Hanoman Raya, Selasa siang.

Selain alasan itu, Farid juga menyebutkan faktor lain yang memengaruhi penolakan pihaknya menerima keluarga imigran dari Afganistan itu. Ia takut jika menerima keluarga asal Afganistan itu akan muncul gelombang pengungsi yang ingin mendapatkan suaka di Rudenim Semarang.

“Kejadian semacam ini bukan yang kali pertama. Dulu juga ada pengungsi dari luar negeri yang tiba-tiba ke sini untuk mendapatkan suaka. Saat itu, kami menerima dan ternyata mereka sebelumnya telah mendapat tempat penampungan di Rudenim Pekanbaru,” tutur Farid.

Farid menilai banyak pengungsi yang tertarik untuk tinggal di Rudenim Semarang. Hal itu dikarenakan Rudenim Semarang merupakan tempat pengungsian paling nyaman dari 11 Rudenim lain di Indonesia.

“Kalau Rudenim lain penghuninya tidak diizinkan keluar, kalau di sini boleh. Saat keluar itu, kami enggak tahu apa yang mereka lakukan. Pastinya, kalau di sini dari makan, minum hingga penginapan, semuanya ditanggung oleh negara,” tutur Farid.

Seperti diberitakan sebelumnya, M. Hussein beserta istri dan tiga orang anaknya berniat mendapat tempat penampungan di Rudenim Semarang. Mereka datang dari Bogor sejak 30 Oktober 2017 dan berdiam diri di sebuah warung mi ayam yang terletak di depan Rudenim Semarang.

Namun, bukannya ditampung oleh Rudenim Semarang, keluarga imigran asal Afganistan itu justru diusir pada Selasa siang. Mereka dibawa ke terminal bus dan dipaksa kembali ke komunitasnya yang ada di kawasan puncak Bogor, Jawa Barat.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…