Kusdinar Untung Yuni Sukowati memimpin apel di Kantor DPUPR Sragen, Senin (24/7/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Kusdinar Untung Yuni Sukowati memimpin apel di Kantor DPUPR Sragen, Senin (24/7/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 9 November 2017 23:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Ini Oleh-Oleh Bupati Sragen dari Kunjungan ke Belanda

Bupati Sragen, Yuni Sukowati, berkunjung ke Belanda selama sepekan.

Solopos.com, SRAGEN — Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati belum lama ini mengunjungi Belanda selama sepekan. Pulang dari Negeri Kincir Angin itu, Bupati memberikan oleh-oleh kepada para tokoh masyarakat Sragen di Pendapa Rumdah Dinas Bupati Sragen, Kamis (9/11/2017) siang.

Oleh-oleh yang dibawa Bupati bukanlah suvenir atau barang berharga tetapi sebuah konsep pengembangan kawasan yang bersih dan tertib aturan. Lawatan Bupati ke Belanda sebenarnya untuk menandatangani kerja sama dengan salah satu dari 10 perusahaan air minum di Belanda, yakni PT Oasen N.V.

Lawatan itu juga diikuti Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto dan Direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sragen. “Belanda itu terletak di lokasi 200-300 meter di bawah permukaan air laut. Kalau pembangunan tidak sesuai aturan, negeri itu bisa tenggelam. Seperti pada 1993, saat dam Belanda jebol sampai menewaskan ribuan orang. Mereka konsisten membuat tata ruang yang baik. Kalau mereka datang ke Sragen mereka jadi ingat kondisi Belanda 30 tahun silam,” ujar Yuni, sapaan Bupati.

Yuni menyampaikan 30 tahun lalu sungai-sungai di Belanda dipenuhi sampah, baik cair maupun padat. Kondisi itulah yang menyebabkan Belanda kesulitan mendapatkan air bersih. Kini, tak ada satu orang pun di Belanda yang berani membuang bungkus permen sembarangan.

“Mereka tidak sekadar membangun fisik kota tetapi juga karakter manusianya,” tambahnya.

Para pejabat Belanda itu, kata dia, sempat melihat kondisi Sungai Garuda yang melintasi jantung Kota Sragen yang memiliki potensi luar biasa menjadi ruang terbuka atau public space. Yuni memimpikan Sungai Garuda bisa menjadi taman kota yang bersih dan indah bukan sungai yang kotor dan bau seperti sekarang ini.

Semua mimpi itu, kata dia, kembali pada kebiasaan masyarakat Sragen yang masih mengandalkan pemerintah untuk menjaganya. Yuni mengajak warga Sragen lewat para tokoh masyarakat agar bisa merasa memiliki sungai sehingga bisa bersama-sama menjaga kebersihan sungai.

Kota di Belanda juga ditata sedemikian rupa mulai dari pedestrian, jalur sepda, dan jalur mobil sudah terpisah. Jaringan pipa air minum, gas, listrik, dan kabel telekomunikasi terpadu menjadi satu jaringan yang dengan mudah bisa dideteksi ketika terjadi kerusakan.

“Kami memang harus belajar bagaimana sebuah negara bisa maju dan memiliki komitmen yang sama. Belanda itu menjadi daerah hilir padahal di hulunya ada Belgia, Prancis, dan negara lainnya yang sinergi menjaga ekosistem sungai tetap bersih,” ujarnya.

 

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…