Pertunjukan teater kolosal tentang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda ditampilkan pada perayaan HUT ke-71 TNI di Lapangan Parade Kodam IV Diponegoro, Semarang, Rabu (5/10/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)
Kamis, 9 November 2017 19:55 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Gebyar Semaken Ajak Warga Teladani Sikap Pahlawan

Gebyar Semaken diharapkan menjadi momen yang membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme

Solopos.com, KULONPROGO-Anak muda masa kini, bisa meneladani sikap positif yang dimiliki oleh para pejuang, untuk membangun karakter diri. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mempelajari sejarah dan peninggalan masa penjajahan.

Hal tersebut yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Gebyar Semaken, di Dusun Semaken, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kamis (8/11/2017).

Acara yang digelar hingga Sabtu (11/8/2017) itu dilakukan, untuk mengenang 232 tahun kelahiran Pangeran Diponegoro, yang jatuh tepat pada 11 November 1875 lalu.

Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi), Roni Sodewo mengatakan, Gebyar Semaken diharapkan menjadi momen yang membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme, sekaligus mempererat tali silaturahim para trah Pangeran Diponegoro.

Sejumlah kegiatan dirangkaikan dalam Gebyar Semaken, misalnya lomba mewarnai gambar Pangeran Diponegoro, pameran peta perang, pameran keris dan sejumlah kegiatan budaya lainnya. Menurutnya, kegiatan ini sangat pas untuk generasi muda agar kembali mengingat sejarah.

“Lewat pameran peta perang, maka generasi muda bisa memahami jejak-jejak pergerakan Diponegoro. Sedangkan keris, dikenalkan sebagai senjata yang identik dengan Diponegoro,” kata dia, Kamis (8/11/2017).

Roni menjelaskan, dalam Babad Diponegoro, dipaparkan kisah menyentuh tentang kehidupan Pangeran Diponegoro, disampaikan secara terbuka dan jujur. Hal itu, karena babad tersebut ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro.

Di mata Roni sebagai keturunan ketujuh, Pangeran Diponegoro adalah orang yang jujur, tegas, berani, bijaksana, dan selalu melakukan apa yang ada di hatinya. Ia juga berani menyebutkan kekurangannya di depan manusia lainnya.

“Dalam babad itu juga bisa kita pahami dari pengakuan Diponegoro, yang masih tidak lepas dari godaan terhadap perempuan. Ia pernah menyatakan penyesalan, telah mengkhianati istrinya, dan ia mengakuinya. Tapi di zaman sekarang? Pejabat memiliki simpanan, disembunyikan jangan sampai ada yang tahu,” terangnya.

Ditanyai soal kaitan Semaken dengan perjuangan Pangeran Diponegoro, Roni menyebut bahwa Semaken adalah tempat berjuang Diponegoro di masa penjajahan.

Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa basis perjuangan pangeran tersebut ada di Goa Selarong, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Padahal sesungguhnya, Selarong hanya lebih dahulu diangkat sejarahnya oleh warga dan pemerintah setempat.

Selain itu, dalam Babad Diponegoro nama Semaken disebutkan secara khusus, bahwa di titik tersebut, saat perang Diponegoro, banyak korban jatuh dari pihak Belanda, di era 1826 sampai 1828.

Semaken juga menjadi salah satu tempat bersejarah yang juga tercantum dalam peta pertempuran. Bukti lainnya banyak benteng pertahanan yang dibuat Belanda untuk emnyempitkan pergerakan Diponegoro. Joglo yang menjadi lokasi kegiatan Gebyar Semaken, juga merupakan milik keturunan Diponegoro.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…