Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan Lomba Macapat di Balai Diklat Yayasan Dharmais, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Rabu (8/11/2017). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja) Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan Lomba Macapat di Balai Diklat Yayasan Dharmais, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Rabu (8/11/2017). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 9 November 2017 06:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Bukan Sekadar Nembang, Macapat Juga Sarana Pembelajaran Budi Pekerti

Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan Lomba Macapat di Balai Diklat Yayasan Dharmais, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Rabu (8/11/2017)

Solopos.com, KULONPROGO- Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan Lomba Macapat di Balai Diklat Yayasan Dharmais, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Rabu (8/11/2017).

Murid iku wajib bekti lan mituhu
Pitutur ing dwija
Sabarang ren ngati-ati
Tata krama empan papan katindakna

Meilinda Nur Aysiah berlari kecil sambil menutupi sebagian wajahnya dengan lembaran kertas putih andalannya pagi itu. Dia merasa lega karena sudah selesai menyanyikan tembang pucung tapi juga malu karena harus tampil di depan ratusan orang. “Deg-degan takut salah,” kata dia.

Siswa kelas VI SD Negeri Plaosan Kokap yang akrab disapa Meilinda itu menjadi peserta Lomba Macapat bersama 162 orang lainnya. Dia rajin berlatih selama dua pekan terakhir agar bisa membawakan dua judul tembang macapat dengan baik dan benar, yaitu tembang pucung dan mijil.

Meilinda rupanya tidak hanya menghafal setiap barisan kata yang ada dalam tembang macapat. Dia juga berusaha memahami makna yang terkandung. Menurutnya, tembang pucung mengingatkannya akan tugas dan kewajiban sebagai murid. Sudah semestinya murid menghormati dan mematuhi nasehat guru. “Menjaga sopan santun itu juga penting,” ujar dia.

Beberapa saat setelah Meilinda duduk kembali di kursi peserta, giliran Mufidah Rubai’ yang mesti menunjukkan kemampuan menembang. Sebagai teman sekelas, Meilinda berusaha tersenyum menyemangati. Dia juga serius menyimak, baik saat sahabatnya itu menembangkan mijil maupun gambuh wewarah.

Hampir sama seperti Meilinda, Mufidah juga langsung kabur dari panggung setelah menyelesaikan misinya. “Sebenarnya enggak susah tapi rasanya grogi karena di depan banyak orang. Pengin mengulang lagi kalau boleh. Tadi kayaknya belum maksimal,” ungkap bocah 11 tahun itu.

Bagaimana pun penampilan mereka di mata dewan juri, Meilinda dan Mufidah berharap lolos babak penyisihan. Mereka ingin masuk lima besar agar bisa mengikuti babak final pada Minggu (12/11/2017) besok.

Kepala Disbud Kulonprogo, Untung Waluyo memaparkan, Lomba Macapat terdiri dari tiga kategori, yaitu anak, remaja, dan umum. Jumlah peserta pada kategori anak tercatat paling banyak karena mencapai 116 orang.

Kategori remaja diikuti 20 orang, sedangkan kategori umum sebanyak 27 orang. “Setiap peserta membawakan masing-masing satu tembang wajib dan pilihan. Nanti dipilih lima peserta terbaik untuk masing-masing kategori, baik putra dan putri,” ucap Untung.

Untung mengungkapkan, Lomba Macapat bertujuan melestarikan seni macapat, termasuk mengenalkan tembang Jawa itu kepada sejak dini kepada anak sekolah. Bukan hanya mempelajari guru lagu dan guru wilangan, melainkan juga bagaimana memaknai tembang macapat.

Untung berharap macapat bisa menjadi sarana pembentukan budi pekerti. “Unen-unen dalam tembang macapat bisa berupa doa, semangat, piwulang, piweling, dan pengajaran dalam rangka membentuk karakter bangsa,” kata dia.

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…