Beberapa pekerja menyelesaikan pembangunan rumah warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di lahan relokasi yang terletak di wilayah Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, beberapa waktu lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Beberapa pekerja menyelesaikan pembangunan rumah warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di lahan relokasi yang terletak di wilayah Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, beberapa waktu lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 9 November 2017 09:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Sebagian Warga Terdampak NYIA Dapat Rumah Plus Perabot

Rumah relokasi Kedundang dilengkapi perabot.

Solopos.com, KULONPROGO— Rumah bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di area relokasi berstatus lahan magersari di Desa Kedundang, Kecamatan Temon akan langsung dilengkapi dengan perabotan, listrik dan air. Mereka juga akan menempati rumah tersebut secara gratis, dengan status hak guna dan diperpanjang tiap 10 tahun.

Total ada 50 unit rumah tipe 36 yang dibangun di atas lahan seluas 4.800 meter persegi tersebut. Pemkab mencatat ada 48 kepala keluarga (KK) terdampak pembangunan NYIA yang masing-masing akan mendapat jatah satu unit rumah magersari tersebut.

Dibangun dengan anggaran dari Pemerintah Pusat sebesar Rp4,9 miliar, satu unit rumah akan bernilai sekitar Rp80 juta sampai Rp90juta per unitnya. Pembangunan rumah relokasi tersebut, ditargetkan selesai pada Desember 2017.

Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo, Suparno mengungkapkan, spesifikasi masing-masing rumah di lahan magersari tersebut bersifat seragam. Antara lain: menggunakan bata ringan, rangka atap baja ringan, genting metal dan menggunakan kayu mahoni. Bentuk rumah juga diseragamkan, termasuk keramik lantai. Setelah itu, pembangunan dilakukan dengan menyediakan fasilitas sambungan listrik, air dan melengkapi perabotan standar (lemari, ranjang, furnitur).

“Penyediaan fasilitas tersebut, karena yang direlokasi di sana adalah warga kurang mampu,” kata dia, Rabu (8/11/2017).

Suparno menambahkan, pemerintah pusat awalnya juga akan menyediakan pra sarana umum di sana, seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sistem drainase, dan juga jalan lingkungan.

Kendati demikian, dana milik pemerintah tidak mencukupi dan tidak dapat membangun jalan lingkungan. Karena di tahapan awal, lahan relokasi yang terletak di Dusun Pencengan dan Dusun Pandoan itu masih harus dibersihkan dan diuruk, dan sudah memakan banyak dana.

Sehingga ke depan, pemkab akan memikirkan kembali, apakah dana pembangunan sarana tersebut menggunakan dana milik Pemkab, atau mengajukan ke pemerintah pusat.

Kepala Desa Kedundang, Abdul Rosyid menyatakan, pemerintah desa hanya mendapatkan tugas mendampingi warga terdampak dan warga Desa Kedundang sendiri, dalam mengikuti proses relokasi.

“Kami berharap warga relokasi, bisa membaur dengan masyarakat Desa Kedundang. Mereka akan terhitung menjadi Rukun Tetangga baru,” kata dia.

lowongan pekerjaan
PT.BPR DANA UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Menduniakan Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (28/10). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Perkembangan dunia saat…