Ilustrasi sarjana (JIBI/Solopos/Reuters) Ilustrasi sarjana (JIBI/Solopos/Reuters)
Rabu, 8 November 2017 07:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Sejumlah Kampus di Jogja Ini Bakal Lenyap Lalu Muncul dengan Nama Baru

Merger 10 PTS segera diajukan

Solopos.com, JOGJA— Keputusan merger sejumlah perguruan tinggi di DIY hampir mendekati kata sepakat. Kopertis Wilayah V DIY mengidentifikasi ada 10 perguruan tinggi swasta (PTS) dari empat kelompok yang bisa segera mengajukan permohonan merger ke Kementristek Dikti.

Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi menjelaskan, pihaknya mulai melakukan pemetaan terhadap PTS yang layak untuk dilakukan merger. Hasilnya ada 10 PTS yang memungkinkan untuk dimerger dalam empat kelompok. Dari empat kelompok tersebut, dua di antaranya sudah menyatakan kesediaannya untuk dilakukan merger.

Terdiri atas, kelompok pertama berasal dari satu yayasan terdiri atas dua PTS yaitu STIKES Al-Islam dan AKA Farma, sehingga tidak ada persoalan yang berarti ketika merger dilakukan. “Ini sudah sepakat melakukan merger, bahkan sudah akan mulai mendaftarkan secara online,” terangnya Selasa (7/11/2017).

Sedangkan kelompok kedua, lanjut dia, merupakan dua akademi dari disiplin keilmuan perikanan, pertanian dan peternakan yang akan diakuisisi sebuah PTS besar menjadi sebuah fakultas bernama Fakultas Pertanian.  “Itu secara lisan sudah ada kesepakatan [merger] juga,” ujar dia.

Ia menambahkan, kemudian kelompok ketiga merupakan dua PTS yang membidangi kesehatan dan administrasi manajemen. Akan tetapi, kedua PTS tersebut belum sepenuhnya ada kata sepakat, terutama terkait nama baru dari hasil penggabungan kedua PTS tersebut.

Namun sesuai arahan Kemenristek Dikti, bahwa ada saran menggunakan nama yang paling unggul, maka hasil penggabungan bisa dikerucutkan menjadi sekolah tinggi kesehatan, kemudian administrasi manajemen ikut melebur dimasukkan secara khusus administrasi kesehatan atau administrasi rumah sakit dalam PTS hasil penggabungan. “Sesuai saran Pak Menteri seperti itu [pakai nama yang paling unggul], tetapi persoalan mau tidak mereka mengarah ke sana. Tetapi prinsipnya kelompok tiga ini relatif bisa diarahkan [bisa mengarah ke setuju],” urai dia.

Berbeda dengan kelompok empat, kata dia, penggabungan sebenarnya bisa segera dilakukan namun upayanya masih sulit. Kelompok ini terdiri atas empat PTS dalam satu yayasan, namun badan pengurus harian (BPH) masing-masing PTS susah untuk dipersatukan. Dari empat tersebut dua diantaranya memiliki jumlah mahasiswa di atas 1.000 sehingga secara administrasi masih sehat, kemudian dua lagi memiliki mahasiswa kurang dari 1.000 orang.

“Nama yayasannya [kelompok empat] ini sama, tetapi orang yang ada dalam yayasan ini punya pemikiran sendiri-sendiri. Walaupun sudah ada aturan, jika ada dua prodi yang sama digabungkan, yang satu akreditasi A dan yang satunya B, maka hasil penggabungan tetap [akreditasi] A, kan menguntungkan itu, tetapi mereka belum bersedia,” urai Bambang.

Menristek Dikti Muhammad Nasir menyatakan, merger dilakukan untuk memperkuat sumber daya perguruan tinggi agar bisa terus berkembang. Menurutnya PTS tidak perlu mengkhawatirkan soal nama dari hasil penggabungan. “Bisa diambilkan dari salah satu PTS yang sekiranya paling unggul,” ungkap dia saat di Unisa Jogja.

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…