Salak gading di kebun Suharno, Bangunkerto, Turi, Sleman, Minggu (3/11/2017). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari) Salak gading di kebun Suharno, Bangunkerto, Turi, Sleman, Minggu (3/11/2017). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari)
Rabu, 8 November 2017 05:20 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Salak Gading Kaya Manfaat, tapi Kalah Populer dari Salak Pondoh

Salak gading mungkin masih kurang populer dibandingkan jenis salak pondoh

Solopos.com, SLEMAN -Salak gading mungkin masih kurang populer dibandingkan jenis salak pondoh yang sama-sama berasal dari Turi, Sleman. Padahal, salak dengan kulit kecoklatan ini sangat multiguna selain juga bisa menjadi penolong ekonomi petani saat harga salak pondoh terjun bebas.

Salak gading memiliki warna kulit lebih muda dibandingkan salak lainnya yang cenderung berwarna coklat gelap. Meski demikian, daging buahnya lebih tebal dengan aroma dan rasa manis yang khas. Dibanding jenis salak lainnya, buah salak gading memang relatif lebih sepat dan punya sedikit rasa asam.

Secara fisik, buah salak gading gampang dikenali dari ciri warna kulitnya yang lebih cerah. Sedangkan untuk tanamannya biasanya batangnya lebih hijau, dengan duri yang kekuningan dan berdaun mulus. Suharno, petani salak sekaligus Sekretaris Koperasi Kertomandiri Sejahtera mengatakan salak gading dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

Dekade lalu jenis salak ini lebih banyak dicari sebelumnya akhirnya tergantikan ketika popularitas salak pondoh meroket. Namun, ia mengatakan jika beberapa waktu belakangan salak gading mulai kembali dikenal banyak orang karena dipercaya bisa menjadi penawar penyakit, salah satunya asam urat. Selain itu, masih banyak lagi manfaat salak ini yang dipercaya juga oleh warga setempat.

Dari segi perekonomian, ia mengatakan jika salak gading juga lebih aman. “Harganya relatif lebih stabil dibandingkan salak lain,” jelasnya, Minggu (5/11/2017).

Menurutnya, hal ini dikarenakan proses penanaman dan perawatannya juga berbeda. Meski demikian, pencangkokannya lebih sulit dibandingkan jenis salak pondoh salah satunya karena tidak boleh berasa di areal panas. Bahkan, Suharno mengilustrasikan jika dari 10 batang yang dicangkok mungkin hanya empat yang sukses tumbuh.

Saat ditemui di kebun salaknya di Bangungkerto, Turi, ia menyampaikan kekhawatiran sendiri akan eksisestensi salak gading ini. Kini, bibit salak pondoh banyak dijual ke luar daerah karena itu Suharno juga khawatir jika bibit salak gading akan banyak dijual pula. Padahal, minat pasar terhadap salak gading kini mulai terbuka. Petani juga mulai menanam jenis salak ini sebagai selingan budidaya salak lokal.

Ditakutkan polanya akan serupa dengan salak pondoh, bibit dikirim ke luar daerah tak terkontrol selama beberapa waktu. Kemudian harganya ikut terjun bebas karena ada eksodus salak dari luar daerah.“Semoga saja pemerintah membuat semacam pembatasan terkait penjualan bibit ini,” harapnya.

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…