Kondisi di Pasar Darurat Bendungan di Wates, Kulonprogo, Rabu (8/11/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Kondisi di Pasar Darurat Bendungan di Wates, Kulonprogo, Rabu (8/11/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 8 November 2017 15:40 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Pasar Darurat di Kulonprogo Bikin Tak Betah

Pedagang ingin segera meninggalkan pasar darurat.

Solopos.com, KULONPROGO– Para pedagang pasar tradisional kembali mengeluhkan turunnya penghasilan mereka selama berjualan di Pasar Darurat Bendungan, Wates. Mereka berharap pembangunan gedung pasar baru bisa cepat selesai agar mereka segera kembali ke tempat yang lebih strategis seperti sebelumnya.

Seorang pedagang daging sapi bernama Bambang, mengaku jumlah konsumennya banyak berkurang setelah dirinya mengikuti program relokasi sementara. Awalnya, dia berpikir kondisi akan membaik seiring berjalannya waktu. Namun, tidak semua pelanggannya datang membeli meski sudah lewat setahun. “Kalau dibandingkan dulu, sekarang paling cuma 60 persennya,” kata Bambang, Rabu (8/11/2017).

Keluhan serupa disampaikan Kurni Astuti, pedagang bunga. Dia memahami jika kondisi pasar darurat serba terbatas. Lokasinya cukup jauh dari jalan raya, tidak seperti posisi Pasar Bendungan sebelumnya. Lingkungan pasar juga sering becek saat musim hujan. Meski begitu, dia yakin kedua hal itu masuk dalam daftar alasan pembeli malas datang sehingga otomatis mengurangi penghasilan para pedagang.

Pasar Bendungan mengalami rusak berat akibat kebakaran pada April 2016. Sebanyak 345 pemilik kios dan 41 pemilik kapling los tercatat menjadi korban. Besar kerugian diperkirakan mencapai Rp5,3 miliar. Pemkab Kulonprogo kemudian berusaha membuat pasar darurat di dekatnya untuk memfasilitasi para pedagang agar bisa tetap berjualan hingga Pasar Bendungan selesai dibangun kembali.

Pasar darurat terletak di belakang SD Negeri IV Bendungan, Wates. Lahan tersebut merupakan Pakualaman Ground (PAG) yang selama ini dimanfaatkan warga sekitar sebagai lapangan umum dan budi daya tanaman pisang. Setelah dibangun dengan anggaran Rp1,3 milar, relokasi sementara bagi para pedagang dilakukan sejak Juni 2016.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo menyatakan memahami keresahan para pedagang. Dia juga tahu jika kondisi pasar darurat menjadi lebih tidak nyaman saat memasuki musim hujan karena becek. “Mereka memang maunya cepat pindah. Jadi harus kita kejar dan berupaya mencari anggaran biar ini [pembangunan] cepat selesai,” ucap Hasto.

lowongan pekerjaan
OPTION EXECUTIVE KTV & BAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…