Pasar Pathuk yang berada di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Jogja, Jumat (8/11). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Pasar Pathuk yang berada di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Jogja, Jumat (8/11). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 8 November 2017 22:40 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Mengulik Jejak Warga Tionghoa di Pasar Pathuk

Akulturasi budaya terjadi di Pasar Pathuk.

Solopos.com, JOGJA— Berlokasi di kawasan sentra Bakpia Patok, Pasar Pathuk menjadi denyut perekonomian bagi masyarakat di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan. Tak hanya demikian, berada di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas berasal dari etnis Tionghoa, ada tradisi unik yang selalu ditampilkan para warga di pasar ini.

Kawasan Patuk yang berada di Jalan Bhayangkara ini adalah salah satu kawasan pecinan, selain Ketandan yang berada tak jauh dari kawasan Malioboro. Sejak dulu, di kawasan ini denyut perdagangan juga amat terasa, salah satunya dengan adanya Pasar Pathuk. Di mana saat dibangun 1977 silam, pasar ini menjadi pusat perdagangan.

Apabila dulu identik dengan pasar yang banyak menjual daging babi, seiring dengan akulturasi budaya di segala lini sosial antara Tionghoa dan Jawa, membuat pasar ini lebih majemuk. Bukan hanya warga Tionghoa saja yang mengais rejeki di pasar ini, pun demikian dengan warga sekitar yang menggantungkan hidupnya pada pasar yang terletak di kawasan sentra oleh-oleh Bakpia.

“Kebanyakan sekarang pedagang dari etnis Tionghoa menjual aneka barang. Ada yang kuliner atau jajanan pasar dan segala jenis komoditas lainnya,” ujar Lurah Pasar Pathuk, Kabul Priyono, Rabu (8/11/2017).

Salah satu toko Tionghoa Jogja, Jimmy Sutanto tak menampik, jika di masa lampau, aktivitas perekonomian di kawasan ini didominasi masyarakat Tionghoa. Tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Ketandan.

“Bahkan, saat Imlek atau Tahun Baru Tiongkok pasar ini juga selalu ramai dikunjungi warga Tionghoa untuk mencari kebutuhan perayaan tersebut,” ujar Jimmy.

Kemajemukan budaya yang ada di pasar ini akan terlihat setiap pasar ini beroperasi setiap pagi dari fajar menyising hingga menjelang tengah hari. Pada setiap perayaan Tahun Baru Tiongkok atau Imlek tiba, kemeriahan tersebut juga tampak terasa.

Selain ornamen khas Imlek yang terpasang disudut-sudut pasar, sejumlah pedagang juga menyajikan beragam pernak-pernik Imlek dan aneka barang persembahan bagi warga Tionghoa, serta kue-kue khas imlek seperti bacang, kue keranjang dan beberapa sayuran yang hanya ada setiap perayaan ini. Bahkan, di hari biasa ornamen khas Tionghoa juga masih tampak di sisi selatan pasar.

“Setiap imlek, para pedagang di sini semua sama-sama nyengkuyung [saling membantu] mempersiapkan perayaan. Bahkan, setiap imlek para pedagang, termasuk pegawai pasar, kami mengenakan seragam warna merah. Warna khas perayaan ini,” ungkap Kabul.

Pasar ini menempati lahan kurang lebih seluas 2.400 meter persegi. Di mana terdiri dari 165 los dan 23 kios serta puluhan lapak pedagang. Sebagai pasar yang menyediakan beragam kebutuhan bagi masyarakat di kawasan Ngupasan, pasar ini juga kerap menjadi daya tarik wisata bagi para pelancong yang sekadar mampir untuk berburu oleh-oleh.

“Tentunya, pada hari Imlek, pasar ini akan lebih ramai. Tidak hanya dikunjungi masyarakat sekitar, tetapi juga wisatawan,” imbuh Kabul.

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi (WAWAWA), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…