pengungsi Afganistan Petugas Imigrasi Semarang (kiri) saat mengangkut secara paksa keluarga Afganistan yang telah berdiam diri di warung mi ayam selama sepekan di Jl. Hanoman Raya, Selasa (7/11/2017). Keluarga Afganistan itu ingin mendapat suaka di Rumah Detensi Imigrasi Kota Semarang. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Rabu, 8 November 2017 11:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KASUS KEIMIGRASIAN
Ini Alasan Keluarga Afganistan Datang ke Semarang

Kasus keimigrasian kali ini menimpa satu keluarga asal Afganistan yang telantar di Semarang.

Solopos.com, SEMARANG – Satu keluarga asal Afganistan terlantar di Kota Semarang. Selama lebih dari sepekan, 30 Oktober-7 November 2017, mereka telantar dan menginap di sebuah warung mi ayam di depan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang di Jl. Hanoman Raya, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kepala keluarga imigran asal Afganistan itu, Muhammad Hussein, 33, menyebutkan alasannya datang ke Semarang.

Ia datang ke Indonesia bersama istrinya, Qudsiah, 30, dan tiga orang anak laki-lakinya, Ali Khisoh, 9, Ahmad, 7, dan Ilyas, 3, sejak empat bulan lalu. Kali pertama ke Indonesia, keluarga yang berasal Kota Ghazni itu bermukim di kawasan puncak Bogor, Jawa Barat (Jabar). Mereka tinggal di kawasan puncak Bogor bersama komunitas sesama orang asal Afganistan.

“Terus ada yang menyarankan kepada kami untuk pergi ke Rudenim di Semarang untuk mendapatkan penampungan sebelum memperoleh suaka ke Australia. Makanya, kami ke sini. Tapi, di sini kami [Rudenim Semarang] kami ditolak, sehingga menginap di warung mi ayam ini,” ujar Hussein melalui salah seorang penghuni Rudenim asal Afganistan yang telah fasih berbahasa Indonesia, Muhammad Raziq, ketika ditemui wartawan, Selasa siang.

[Baca juga Tragis, Jauh-Jauh ke Semarang, Keluarga Afganistan Ini Telantar di Warung Mi Ayam]

Hussein mengaku untuk datang ke Semarang dirinya harus menjual handphone. Uang hasil penjualan handphone itu ia gunakan membeli tiket bus untuk dirinya dan keluarganya. Sayang, setelah sampai di Rudenim keluarga asal Afganistan itu tak diizinkan tinggal.

Alasan, pihak Rudenim Semarang menolak keluarga Afganistan itu karena tempat penampungan yang telah melebihi kapasitas. Meski demikian, Hussein dan keluarganya bersikukuh untuk memperoleh suaka di Rudenim Semarang. Mereka pun nekat berdiam diri di warung mi ayam agar hati para petugas Rudenim melunak hingga memberikan suaka.

Selama sepekan lebih, keluarga pasangan muda itu pun mengandalkan belas kasih warga sekitar untuk menyambung hidup. Tak jarang, warga sekitar memberi keluarga asal Afganistan itu makanan dan uang agar tidak kelaparan.

Meski demikian, keteguhan keluarga asal Afganistan itu tak membuat pihak Rudenim Semarang mengubah keputusannya. Bahkan, pada Selasa siang pihak Rudenim Semarang mengusir Hussein beserta keluarganya dari warung mi ayam itu karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

Hussein dan keluarganya pun diangkut secara paksa dengan mobil milik Kantor Imigrasi Semarang. Mereka dibawa ke terminal bus terdekat dan diminta untuk kembali ke komunitasnya di kawasan puncak Bogor.

Hussein mengaku sebenarnya tidak mau hidup sebagai tuna wisma di negeri orang. Meski demikian, kondisi keamanan negara asalnya yang buruk memaksa dirinya beserta keluarga hijrah ke Indonesia. “Di sana [Afganistan] kondisinya tidak aman. Jadi kami mengungsi ke sini [Indonesia],” tutur Hussein.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…