Rifal Dwi Kurniawan (11), siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) Trowono III, Saptosari, Gunungkidul terbiasa berjualan es lilin kacang hijau di sekolahnya. (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja) Rifal Dwi Kurniawan (11), siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) Trowono III, Saptosari, Gunungkidul terbiasa berjualan es lilin kacang hijau di sekolahnya. (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 8 November 2017 00:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Indeks Lama Pendidikan di Gunungkidul Menurun, Ternyata Ini Penyebabnya

Indeks lamanya pendidikan di Kabupaten Gunungkidul tahun ini mengalami penurunan

Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Indeks lamanya pendidikan di Kabupaten Gunungkidul tahun ini mengalami penurunan. Untuk itu kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul terus melakukan upaya pemerataan pendidikan agar siswa dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengatakan berdasarkan data dari Badan Pusat statistik (BPS) terakhir menunjukkan lamanya pendidikan di Gunungkidul masih rendah dengan indeksnya 6,7 poin, menurun dari data sebelumnya yakni 7 poin. “Penurunan ini karena pendidikan dihitung sampai dengan jenjang perguruan tinggi,” ujarnya, Senin (6/11/2017).

Menurutnya lulusan SMA di Gunungkidul sebenarnya banyak yang meneruskan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di kota besar, seperti Kota Jogja atau Solo. Namun karena saat pendataan dari BPS banyak mahasiswa yang berada di kota tempat menempuh pendidikan tinggi, maka data dari kurang mampu menggambarkan kondisi riilnya.

Namun demikian, dengan adanya data tersebut pihaknya akan berupaya untuk melakukan pemerataan pendidikan di Gunungkidul, indeks lama pendidikan semakin meningkat. Terlebih pada jenjang SMP dan SMA yang saat ini masih banyak siswa yang putus sekolah pada jenjang tersebut.

“Kami terus berupaya agar lulusan SMP bisa melanjutkan SMA hingga 100%, sehingga tidak ada lagi siswa putus sekolah,” ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng perusahaan atau pribadi yang berniat membantu melalui program orang tua asuh. “Stigma pendidikan di Gunungkidul rendah harus dikikis, meski sudah banyak siswa kita banyak berprestasi tetapi kalah dengan stigma itu. Pemerataan pendidikan bisa deilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak,”katanya.

Sementara Itu, Ketua Lembaga Orang Tua Asuh Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan pada 2017 ini pihaknya mendapatkan bantuan dari berbagai pihak mulai dari perusahaan, hingga pribadi. Ada sebanyak 550 siswa dari 55 sekolah di delapan kecamatan dibantu program orang tua asuh.

Adapun setiap siswa SD sederajat memperoleh bantuan Rp120 ribu dan SMP sederajat memperoleh bantuan Rp180.000 pertahunnya. “Untuk total Siswa SD sederajat jumlahnya 487 orang, dan SMP sederajat sebanyak 63 orang,” kata Supriyanto.

lowongan pekerjaan
PT.Astra International tbk, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…