Ilustrasi pergelaran wayang kulit. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis) Ilustrasi pergelaran wayang kulit. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis)
Rabu, 8 November 2017 19:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

Hari Wayang di Semarang Dimeriahkan 15 Dalang Kondang

Hari Wayang Nasional diperingati dengan pergelaran wayang kulit oleh 15 dalang ternama di Semarang.

Solopos.com, SEMARANG – Sebanyak 15 dalang kondang dari berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng) akan tampil memeriahkan peringatan Hari Wayang Nasional 2017 di Kota Semarang. Mereka akan tampil dalam pergelaran wayang kulit di halaman Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang, selama lebih dari sepekan Selasa-Rabu (7-13/11/2017).

Dilansir dari laman Internet resmi Pemprov Jateng, Rabu (8/11/2017), ke-15 dalang kondang yang akan tampil memeriahkan Hari Wayang Nasional di Kota Semarang itu adalah Ki Bremara Sekarwangsa, Ki Sri Hadi Guna Pandaya, Ki Manteb Sudarsono, Ki Joko Winangun, Ki Dartono Aminjoyo, Ki Arif Sudarsono, Ki K.R.A.T. Ribut Carita Dipura, Ki Sumardi, Ki Warseno Tarupuspito, Ki Shindunata Gesit Widiarto, Ki Bambang Sulanjari, Ki Kristanto, Ki Pangesthi Yatimin, Ki Catur Raharjo, dan Ki Mulyono Harjo W.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng, Sri Puryono, berharap penampilan ke-15 dalang ternama itu mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat Jateng untuk menyaksikan pergelaran wayang kulit. Hal itu dikarenakan wayang kulit merupakan warisan budaya asli Indonesia dan sudah diakui oleh salah satu organisasi PBB, UNESCO, sebagai seni budaya yang luar biasa karena mampu memberikan pendidikan moral dan budi pekerti.

Puryono juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak hanya menjadikan pergelaran wayang sebagai tontonan, melainkan juga harus mencermati, memahami, dan meresapi setiap cerita dan tokoh karakter dalam pewayangan untuk menjadi pembelajaran dalam memaknai nilai-nilai kehidupan.

“Jika perlu, sesekali main wayang orang agar bisa mendalami karakter yang dimainkan. Semakin banyak tokoh wayang yang dimainkan, semakin menambah pemahaman sifat-sifat manusia,” kata Puryono dilansir laman Internet resmi Pemprov Jateng, Rabu.

Puryono mengatakan di tengah gempuran budaya asing, penyajian pagelaran wayang juga harus mengikuti perkembangan zaman dan dapat menarik minat generasi muda yang terus berkurang. Misalnya, mengolaborasikan pagelaran wayang dengan aneka kesenian lain dan alat-alat musik modern, serta audio visual yang mampu menghidupkan suasana.

“Inovasi penyajian wayang sah-sah saja. Yang penting pakem atau intisari cerita tidak bergeser apalagi berubah,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah ini juga berharap Hari Wayang Nasional bisa dijadikan momen penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda. Sehingga keterlibatan mahasiswa dan pelajar dalam setiap pergelaran dan pementasan wayang perlu terus ditingkatkan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…