Siswa baru bersalaman dengan gurunya di SDN Nogopuro Depok Sleman, Senin (18/7/206). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Siswa baru bersalaman dengan gurunya di SDN Nogopuro Depok Sleman, Senin (18/7/206). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 8 November 2017 08:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Cegah Kekerasan Anak, Guru Diminta Terapkan Disiplin Positif

Guru diminta untuk menerapkan disiplin positif untuk mencegah anak melakukan dan mengalami tindak kekerasan

Solopos.com, SLEMAN– Guru diminta untuk menerapkan disiplin positif untuk mencegah anak melakukan dan mengalami tindak kekerasan.

Asisten Deputi Perlindungan Anak dan Kekerasan dan Eskploitasi  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Rini Handayani mengatakan sepertiga waktu yang dihabiskan anak berada di lingkungan sekolah. Kondisi ini memicu terjadinya kekerasan di sekolah. Oleh karena penerapan disiplin positif bagi tenaga pendidik perlu dilakukan.

“Seringkali terjadi maksud guru memberi hukuman disiplin, tetapi pelaksanaannya menjadi lain. Malah yang kena gurunya sendiri. Padahal pada prinsipnya tidak ada guru yang akan mencelakakan muridnya,” katanya di sela-sela sosialisasi penerapan disiplin positif bagi tenaga pendidik di Sahid Rich Hotel, Selasa (7/11/2017).

Sosialisasi tersebut diikuti 60 orang dari pendidik SMP yang sekolahnya telah diinisiasi menjadi Sekolah Ramah Anak. Adapun Pemkab Sleman menginisiasi 50 Sekolah Ramah Anak terdiri dari 23 SMP dan 27 SD.

Menurut Rini, guru disasar sebagai peserta pelatihan agar mereka dapat mendidik anak tanpa melanggar ketentuan hukum. Guru juga diarahkan kepada teknik-teknik praktis untuk mendukung pendidikan positif bagi anak.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) selama 2016 menerima sekitar 3600 laporan kekerasan terhadap anak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3% diantaranya kekerasan seksual. Banyak kasus kekerasan terhadap anak, kata Rini, salah satunya karena tradisi mendidik anak dengan kekerasan dinilai hal yang wajar.

Menurutnya, terpenuhinya hak-hak anak harus didukung oleh berbagai unsur dalam lingkungan sekitar. Termasuk dari kalangan tenaga pendidik. “Mereka harus mampu menekankan pentingnya penerapan disiplin positif pada satuan pendidikan, untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak,” katanya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menambahkan masa tumbuhkembang anak perlu dioptimalkan untuk membentuk karakter anak. Selama masa tersebut orangtua ataupun pendidik harus melakukan pendidikan yang benar. “Metode pendidikan yang digunakan harus tepat untuk membentuk pembentukan karakter yang positif,” katanya.

Dalam setiap fase tumbuhkembang anak, lanjutnya, pola asuh dan pola didik harus disesuaikan. Keberhasilan dalam mengarahkan, mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kepada anak menjadi penentu terbentuknya karakter dan pribadi anak. Oleh karena itu dia mengingatkan pembentukan karakter anak menjadi moment penting bagi tumbuhnya generasi yang cerdas, tangguh dan positif.

“Apalagi masa anak-anak hanya akan terjadi satu kali. Jika kita keliru dalam menanamkan nilai-nilai positif dalam pembentukan karakternya hal itu akan berpengaruh bagi perilaku dan sudut pandangnya seumur hidup,” katanya.

lowongan pekerjaan
CV SENTRA CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pelajaran Pahit dari Eks PG Colomadu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (1/11/2017). Esai ini karya Guntur Wahyu Nugroho, seorang pemerhati dinamika Kota Solo dan sekitarnya. Alamat e-mail penulis adalah gunturwn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Prakarsa kunjungan komunitas Soeracarta Heritage Society ke eks Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Minggu,…