Pasar Karetan, Kendal. Suasana di Pasar Karetan, Kendal, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (5/11/2017). Pasar Karetan merupakan objek wisata berupa pasar di hutan karet di kawasan Radja Pendapa Desa Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, Jawa Tengah (Jateng). (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa-Genpi Jateng)
Selasa, 7 November 2017 09:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

WISATA KENDAL
Ini Dia Pasar Karetan, Destinasi Wisata Baru di Kendal...

Wisata Kendal, destinasinya bertambah dengan hadirnya Pasar Karetan yang berada di lokasi hutan karet.

Solopos.com, SEMARANG – Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jateng), kini memiliki destinasi wisata baru. Destinasi itu tak lain adalah Pasar Karetan yang berlokasi di hutan karet Radja Pendapa Desa Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, Jawa Tengah (Jateng).

Pada Minggu (5/11/2017), hutan karet di Radja Pendapa itu diubah menjadi pasar dengan nuanasa pedesaan hasil kolaborasi netizen yang tergabung dalam komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jateng dengan warga setempat. Suasana pedesaan yang komplet dengan aneka kuliner, dolanan bocah, dan seni tradisional, dikolaborasikan dengan dekorasi lifestyle kekinian yang ramah lingkungan atau go green tersaji di acara Pasar Karetan itu.

Pasar Karetan Kendal.

Suasana di Pasar Karetan, Kendal, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (5/11/2017). Pasar Karetan merupakan objek wisata berupa pasar di hutan karet di kawasan Radja Pendapa Desa Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, Jawa Tengah (Jateng). (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa-Genpi Jateng)

“Ini luar biasa, di tengah hutan karet ada aktivitas orang jualan, berinteraksi, ada kuliner khas, bisa belajar, masyarakat di sini juga terlibat. Ini akan meningkatkan potensi wisata dan ekonomi warga,” tutur Bupati Kendal, Mirna Annisa, yang datang ke Pasar Karetan, dalam siaran pers Genpi Jateng kepada Solopos.com, Minggu petang.

Mirna ingin, Radja Pendapa Boja yang termasuk daerah pinggiran berbatasan dengan Kota Semarang bisa dilirik oleh para wisatawan. Pasar Karetan menurutnya sangat pas digelar untuk menunjukan suasana pedesaan yang dikemas para netizen Genpi.

Nitizen ini yang mengkolaborasikan, seperti kuliner, tempatnya, dekorasinya semua sangat menjual di medsos [media sosial]. Kita lihat para pendatang asyik ber-selfie ditiap sudut Radja Pendapa,” imbuh Mirna.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Esthy Reko Astuty, menyampaikan kolaborasi masyarakat sekitar dengan anak muda zaman serba digital menciptakan atraksi nuansa back to nature di Pasar Karetan, Kendal.

Pasar karetan kendal

Bupati Kendal, Mirna Annisa (empat dari kiri), berpose di depan pintu masuk area Pasar Karetan, Minggu (5/11/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa-Genpi Jateng)

“Kemenpar sangat mendukung karena ini daya tarik, ini bagian dari pemasaran kami. Kalau dilihat market-nya ini cocok untuk nusantara dan ASEAN yang direct dari Solo dan Jogja. Bahkan wisman [wisatawan mancanegara] Singapura yang biasa disuguhi gedung tinggi pasti akan terkagum dengan suasana back to nature ini,” beber Esthy.

Esthy melihat partisipasi masyarakat lokal ada kuliner tradisional, membatik, membuat payung hias, mendekor, sampai anak-anak diikutkan permainan tradisional akan menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Sementara itu, pemilik Radja Pendapa Camp, Don Kardono, menyebutkan suasana back to nature membawa para pengunjung layaknya menyatu dengan alam. Sebelum menginjakan kaki di lahan sekitar enam hektare yang menjadi lokasi Pasar Karetan, pengunjung akan dijemput di area parkir yang berjarak sekitar 500 meter dengan menggunakan kendaraan wisata.

Di Pasar Karetan itu, pengunjung juga harus menggunakan uang khusus berbentuk koin dari kayu untuk melakukan transaksi. Satu koin kayu yang jadi alat transaksi di objek wisata di Kendal tersebut.

“Rupiah, dollar, poundsterling, di sini tak laku. Ada money changer untuk menukar uang dengan koin kayu khusus pembayaran mulai Rp2.500, Rp5.000 hingga Rp10.000,” beber Kardono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…