Selasa, 7 November 2017 07:40 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Mengapa Harga Sayur Saat Ini Terus Naik?

Pedagang tak bisa siasati kenaikan harga sayur.

Solopos.com, JOGJA— Pedagang di pasar tradisional mengeluhkan harga komoditas sayuran yang semakin hari semakin tinggi. Mereka mengaku tidak bisa menyiasati kenaikan harga tersebut, terkecuali tempe yang dapat dikurangi ukurannya jika harga kedelai naik.

Sari, pedagang sayuran di Pasar Kranggan mengatakan, saat ini semua jenis sayuran mengalami kenaikan harga. “Yang paling stabil itu ya tempe. Kalaupun harga kedelainya naik, kan bisa direka misalnya ukurannya dikecilin, tapi kalau sudah hubungan sama sayuran sudah tidak bisa direka lagi,” katanya Senin (6/11/2017).

Saat musim hujan seperti ini, pedagang mau tidak mau menanggung biaya kulakan yang lebih besar dari petani maupun distributor. Hal itu terjadi karena kualitas sayuran menurun, pasokannya menipis, sehingga harganya mahal.

Sari mengatakan, saat musim hujan seperti sekarang, pilihan pedagang hanyalah membuat harga stabil atau naik. “Tidak mungkin kalau turun,” tegasnya.

Ia mengakui, daya tahan sayuran sangat berpengaruh dengan musim hujan. Sebagian besar sayuran yang terkena air dalam jumlah besar akan mudah membusuk sehingga hanya bertahan sekitar dua sampai tiga hari. Brokoli dan bunga kol misalnya, jika lebih dari dua hari sudah berubah warna menjadi kekuningan. Jika dibiarkan, lama-lama akan membusuk. Hal itulah yang menurutnya membuat harga brokoli saat ini melambung sampai Rp25.000 per kg dari sebelumnya hanya Rp15.000 per kg.

Komoditas cabai rawit juga terkena imbasnya. Sari mengatakan, sebelum memasuki musim hujan, harga cabai rawit hanya dijual Rp10.000 per kg, tetapi saat ini sudah melambung sampai Rp20.000 per kg. Dalam waktu dua pekan, harga cabai rawit naik 100% kali lipat. Ia pun memprediksi sampai puncak musim hujan pada Desember mendatang, harganya bisa semakin tinggi. “Bisa jadi sampai Rp100.000 seperti dulu,” tutur dia.
Sementara itu, harga cabai keriting merah yang sebelumnya Rp20.000 per kg juga sudah naik menjadi Rp25.000 per kg. Pedagang pun mengaku tidak berani menyetok barang dalam jumlah banyak. Melihat ketahanannya yang menurun, pedagang hanya menyetok sesuai kebutuhan penjualan per hari.

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi (WAWAWA), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…