Mentan Andi Amran Sulaiman (dua dari kiri) berdialog dengan aparatur sipil negara (ASN) yang mengurusi pengembangan benih saat berkunjung ke Balai Pengembangan Benih Padi Unit Masaran, Sragen, Selasa (7/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Mentan Andi Amran Sulaiman (dua dari kiri) berdialog dengan aparatur sipil negara (ASN) yang mengurusi pengembangan benih saat berkunjung ke Balai Pengembangan Benih Padi Unit Masaran, Sragen, Selasa (7/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 7 November 2017 13:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Kunjungi Sragen, Mentan Berjanji Kucurkan DAK untuk Balai Benih di Desa

Mentan mengadakan kunjungan kerja ke Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta pemerintah daerah mengadakan balai benih di tingkat desa atau kecamatan untuk melayani petani. Mentan berharap petani bisa mendapatkan benih dengan harga murah dan tidak tergantung pada perusahaan besar.

Mentan mendukung adanya balai benih tingkat desa/kecamatan itu lewat dana alokasi khusus (DAK) yang akan diupayakan pada APBN 2018. Pernyataan Mentan itu disampaikan saat ditemui wartawan seusai meninjau Balai Pengembangan Benih Padi Unit Masaran, Sragen, Selasa (7/11/2017) siang.

Kunjungan Mentan ke Masaran merupakan rangkaian kunjungan ke wilayah Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar.

“Mestinya pola balai benih ini tidak hanya untuk padi tetapi juga untuk jagung dan bawang. Kami akan support lewat DAK 2018. Nilai anggarannya tergantung permintaan. Pokoknya kami ubah pola yang selama berjalan karena penting supaya petani tidak tergantung pada perusahaan besar. Pola ini akan diberlakukan di Indonesia,” ujar Amran.

Amran menjelaskan pemberian DAK itu dilewatkan Provinsi Jateng dan provinsi lainnya. Dia mengungkapkan tahun ini sudah ada anggaran pengembangan benih dan pada 2018 mendatang ada peningkatan, khususnya untuk jagung, yakni sampai 4 juta hektare.

Di sisi lain, Amran menginginkan rantai perniagaan beras harus diperkecil supaya harga di hilir bagus dan harga di hulunya atau di tingkat petani juga bagus.

Amran menyampaikan banyak pilihan harga mulai dari harga pembelian pemerintah (HPP), harga fleksibilitas dengan kenaikan 10%, harga komersial, dan harga di luar kualitas saat musim penghujan. “Nah, petani tinggal memilih harga yang mana tetapi tergantung pada kualitas gabahnya,” tambahnya.

Amran menyatakan Pemerintah Pusat tidak pernah melarang pengusaha membeli gabah. Amran justru mendorong sektor swasta membeli gabah petani setinggi-tingginya tetapi untuk menjual dalam bentuk beras harus berpedoman pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), yakni tidak boleh melebihi harga eceran tertinggi (HET) Rp12.800/kg.

Kepala Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortuikultural Wilayah Surakarta, Neni Ernawati S., menambahkan produksi benih padi di wilayah Jateng itu mencapai 1.500-1.600 ton per tahun. Dia menyebut balai pengembangan benih seperti di Masaran itu ada 45 lokasi. Puluhan balai benih itu bukan untuk padi saja tetapi juga untuk palawija dan hortikultura.

Terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, menyampaikan selama ini belum ada konsep pembentukan balai benih di tingkat desa atau kecamatan. Dia mengungkapkan banyak lahan di Sragen yang digunakan untuk pengembangan benih tetapi kebanyakan dari pihak swasta, seperti di Sidoharjo ada 700 hektare dan di Masaran sendiri ada 1.000 hektare.

“Kalau di tingkat petani biasanya pengembangan benih itu dilakukan oleh kelompok tani dan dijual kepada anggota kelompok taninya. Artinya, peran pemerintah belum pada pengembangan benih di tingkat desa atau kecamatan tetapi masih dalam bentuk bantuan benih kepada petani,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…