Kombes Pol Arif Nurcahyo (paling kiri) saat memberikan pemaparan di seminar Beware! Drugs Are Just Next Door! di Puri Artha Hotel, Minggu (5/11/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika) Kombes Pol Arif Nurcahyo (paling kiri) saat memberikan pemaparan di seminar Beware! Drugs Are Just Next Door! di Puri Artha Hotel, Minggu (5/11/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika)
Selasa, 7 November 2017 23:23 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Krisis Percaya Diri Picu Seseorang Menjadi Pecandu Narkoba

Orang-orang yang akhirnya menjadi pecandu narkoba biasanya diawali dari interkasi dengan alkohol dan rokok

Solopos.com, SLEMAN--Orang-orang yang akhirnya menjadi pecandu narkoba biasanya diawali dari interkasi dengan alkohol dan rokok.  Mulanya mereka hanya menggunakan di saat-saat tertentu, tapi akhirnya jadi ketagihan. Selain itu, kepercayaan diri yang rendah juga diduga sebagai penyebab orang melarikan diri ke barang haram tersebut.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Koentjoro di seminar Beware! Drugs Are Just Next Door! di Puri Artha Hotel, Minggu (5/11/2017). Turut hadir dalam acara tersebut, Psikolog Forensik, Kombes Pol Arif Nurcahyo.

Prof Koentjoro menyampaikan, awalnya para perokok dan penikmat alhokol hanya mencicipi narkoba saat ada momen-momen tertentu seperti pesta. Tujuannya tentu untuk bersenang-senang. Dari pemakaian yang sesekali itu akhirnya membuat orang menjadi ketagihan dan kemudian jadi seorang pecandu.

Penyebab lain adalah mengenai kepercayaan diri. Ia memberi ilustrasi seorang anak yang selalu menjadi juara di sekolah. Anak tersebut selalu dipuji. Tapi, saat mendapat kesulitan dan cercaan si anak langsung jatuh serta kehilangan kepercayaan diri.

“Lalu penjual narkoba nawarin. ‘Kalau kamu enggak percaya diri pakai aja ini. Kalau belum mau pake sekarang, simpeng aja dulu’. Sasaran mereka itu adalah anak orang kaya dan anak yang jati dirinya tidak kuat. Ini berkaitan dengan pengembangan diri,” ucapnya pada seminar yang diselenggarakan oleh Olifant School itu.

Contoh lain, sambung Prof Koentjoro, adalah para artis yang dulunya penuh dengan ketenaran dan kemasyuran, namun dalam kehidupannya sekrang harus menerima kenyataan pahit, dirinya tak sedasyat di masa lalu. Akhirnya si artis memilih membenamkan diri pada narkoba karena tidak punya kepercayaan diri seperti sedia kala.

Hal-hal diatas adalah sebuah kekeliruan. Menurutnya, tak ada istilah minder. Kepercayaan diri adalah masalah manajemen diri, karena setiap orang pada dasarnya dibekali dengan bakat, pun begitu dengan kekurangan.

“Anak yang tidak pede bukan karena punya banyak kekurangan. Tapi kepercayaan diri adalah tentang menghargai kekurangan dan kelebihan. Karena itu seperti kata Sun Tzu [ahli strategi militer] mengenal diri adalah yang yang paling penting,” tuturnya.

Selain saran tersebut, ia juga memberikan imbauan bagi para orang tua dan guru yang hadir untuk mecegah seseorang terjerumus menjadi pemuja narkoba. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti tersenyum, peka, pandai memilih kata, menghargai dengan memberikan pujian dan menjadi pendengar yang baik.

Yang disebutkan terakhir sangat penting, tapi susah untuk dijalankan karena orang-orang terlalu fokus pada diri sendiri. Prof Koentjoro mengatakan, dengan didengarkan, permasalahan yang dialami oleh anak akan berkurang sedikit.

Dengan demikian, peluang untuk melarikan diri ke hal-hal negatif akan menurun. “Tapi persoalannya, apakah mereka didengarkan di rumah dan sekolah?”

Sementara Arif mengatakan, narkoba juga tentang persepsi. Jika seseorang memandang narkoba sebagai sesuatu yang menakutkan, maka ia akan terus takut bersentuhan dengannya. Namun, ketika narkoba dilihat sebagai tantangan, maka akan menjadi hal yang berbeda.

“Sejak awal harus punya konsep yang jelas terhadap narkoba. Kalau dari awal takut akan terus takut, tapi kalau itu dianggap menantang maka orang akan menjawab tantangan itu,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
ASTRA DAIHATSU KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…