Sugeng (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sugeng (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 7 November 2017 22:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KEHIDUPAN VETERAN
Sudah Menyerah Mengharap Bantuan Pemerintah

Veteran yang pernah berjuang untuk kemerdekaan masih ditemukan, tak tersentuh bantuan pemerintah.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah rutin memberikan tunjangan kepada veteran. Namun, tak semua yang turut mengikhtiarkan kemerdekaan Republik Indonesia merasakan perhatian tersebut. Masih ada segelintir pejuang yang tercecer, luput dari perhatian. Salah satunya Mbah Sugeng, penduduk Dusun Plumbungan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, yang di masa mudanya berdarah-darah mewujudkan gagasan tentang Indonesia. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com David Kurniawan.

Sugeng, pria kelahiran 1926 ini, pernah tercatat sebagai personel Tentara Pembela Tanah Air (Peta) mulai 1942-1946. Keanggotaannya sebagai serdadu kesatuan militer yang menjadi cikal bakal TNI itu dibuktikan melalui sehelai piagam yang dikeluarkan Yayasan Peta DIY No.174 bertarikh 5 Januari 1998.

Dalam piagam ini tertulis pangkat Sugeng sebagai Gyuhey di Kesatuan DAI. IV. Daidan Gunungkidul. Bukti ini merupakan kenang-kenangan saat berjuang puluhan tahun silam dan menjadi kebanggaan dalam menjalani hidup di hari tua.
Sejak tiga tahun lalu Sugeng hidup sendiri. Istrinya, Tumirah, sudah tiada. Dari buah kasihnya dengan Tumirah, ia dikaruniai tujuh anak. Namun, seluruh keturunannnya telah tinggal terpisah dan hanya sesekali datang menjenguk untuk memberikan bekal hidup. “Saya sekarang sendiri,” kata Sugeng, Senin (6/11/2017).

Sugeng tinggal di rumah semi permanen. Temannya kala malam hanya televisi dan radio. Dia melewati siang hari dengan bercocok tanam di lahan yang berada di samping rumah. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan, dia diundang ke perkumpulan dusun untuk menceritakan susahnya zaman kolonial.

Sugeng masih ingat betul kesukaran di sekitar Hari Kemerdekaan. Dua hari setelah Indonesia diproklamasikan, Peta dibubarkan. Sugeng kemudian masuk ke kesatuan Batalyon 10 Jogja. Di kesatuan, dia diberi tugas mencegat pasukan Sekutu di Srondol, Semarang, yang ingin kembali menegaskan kekuasaanya di Indonesia.
Dalam pertempuran itu, Sugeng terkena serpihan mortir yang membuat mulutnya terbakar. Namun, luka itu belum seberapa karena dia harus merelakan saudara angkatnya mati tertembak bedil musuh. “Jadi saya harus mengalami luka dua kali. Pertama saya terkena serpihan mortir, dan yang kedua harus melihat Suharsono [kakak angkat] mati,” kenangnya.

Akibat peristiwa ini, Sugeng keluar dari militer. Namun pada 1946 di kembali turun di medan perang. Pada kesempatan kedua, ia tidak ikut angkat bedil karena hanya bertugas menyuplai makanan untuk para serdadu. “Kebetulan saya sempat jadi pamong desa. Jadi kedudukan ini saya gunakan untuk membantu pejuang dengan memberikan pasokan makanan,” tutur dia. Keterlibatan dalam perang untuk kali kedua ternyata juga memberikan kesan yang pahit. Sebab, saat Belanda menyerang, rumah limasan yang dia miliki dibakar sehingga seluruh anggota keluarganya mengungsi diri.

“Tidak apa. Semua sudah terjadi dan sudah menjadi bagian hidup saya,” kata Sugeng lirih. Palagan Sugeng belum berakhir, meski Indonesia sudah merdeka. Di usianya yang mengijak 91 tahun, Sugeng masih harus berjuang karena jerih payahnya sebagai pejuang belum diakui oleh negara. Piagam sebagai anggota Peta seolah hanya hiasan karena sampai sekarang dia belum pernah merasakan tunjangan pensiuan sebagai veteran perang.

Padahal, sejak lima tahun lalu, lalu pemerintah saban bulan memberikan tunjangan. Sejumlah peraturan pelaksana Undang-Undang (UU) No.15/2012 Tentang Veteran Republik Indonesia telah diterbitkan, sebagian isinya mengatur hak-hak veteran.
Mulai 2015, tunjangan diberikan bervariasi tergantung pada golongan. Golongan A mendapat Rp 1,6 juta per bulan, sedangkan yang terendah, golongan E, mengantongi Rp1,4 juta. Tunjangan tersebut khusus untuk veteran non-pensiunan. Veteran pensiunan mendapat separuhnya. Selain itu mereka juga mendapat dana kehormatan sebesar Rp750.000 per bulan sejak 2008.
Tahun depan, nominal itu akan bertambah. Presiden Jokowi, saat menutup Kongres XI Legiun Veteran Republik Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pertengahan bulan lalu, melontarkan rencana untuk menaikkan tunjangan veteran hingga 25% mulai Januari 2018.

“Saya sudah pernah mengajukan untuk dana pensiunan pejuang hingga dua kali, tapi hasilnya tetap tidak ada. Terakhir, saya mengajukan pada 2006 lalu.” Tak seperti pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang bisa dia lalui dan menangi, perjuangan memperoleh hak sebagai pejuang kemerdekaan begitu sukar dia lewati. Sugeng pun menyerah.
“Saya tidak pernah mengurus dana pensiunan lagi,” kata dia. Satu-satunya imbalan materi yang pernah dia terima adalah rehab rumah dua tahun lalu. “Rumah saya diperbaiki anggota Kodim.”

Bernasib Baik
Sugeng kemungkinan besar adalah sebagian kecil pejuang yang tak terdata. Menurut catatan Dewan Pimpinan Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) DIY, jumlah veteran di provinsi ini per Juni 2017 sebanyak 1.476 orang, meliputi 178 veteran di Kota Jogja, 435 di Bantul, 175 di Kulonprogo, 127 di Gunungkidul, dan 561 di Sleman. Tidak semua yang tercatat sebagai veteran mendapat tunjangan.

Kepala Kantor Administrasi Veteran Gunungkidul Mayor Inf Wahyudi Hutomo mengatakan hingga saat ini ada 114 veteran yang rutin mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Meski demikian, masih masih ada pejuang yang luput perhatian dari pemerintah. Sebagai contoh, Kantor Administrasi Veteran Gunungkidul masih memperjuangkan santunan untuk empat veteran. “Jadi kemungkinan veteran yang belum mendapatkan santunan masih ada,” ujarnya. Wahyudi pun mengharapkan warga masyarakat yang anggota keluarganya ikut menjadi tentara semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia segera melapor. “Memang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Tapi dengan laporan itu, maka kami semakin mudah untuk memperjuangkan agar veteran yang belum mendapatkan santunan dapat memperoleh hak tersebut,” kata dia.

Nasib Sugeng jelas lebih buruk dibandingkan dengan veteran lain. Mereka yang sudah mendapat tunjangan bulanan bisa menjalani hidup secara layak dan tidak bernasib nelangsa. Pawiro Sudarmo alias Mbah Kawit tinggal bersama 10 orang; istri, anak, menantu, cucu, dan buyut, di rumahnya, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. “Dulu setelah pensiun sempat jadi petani. Kalau sekarang sudah tinggal menikmati [hari tua],” kata dia, Jumat (3/11) lalu. Pria yang mengaku berusia 95 itu pada masa akhir pendudukan Jepang hingga perang kemerdekaan bertugas sebagai paramedis di Rumah Sakit DKT Dr.Soetarto, Kota Baru, Jogja. “Itu rumah sakit militer. Saya ikut dokter merawat tentara dan keluarga mereka,” ujar dia.

Pawiro masih ingat dirinya sempat tidak digaji selama lima tahun hingga 1950 karena kondisi keuangan pemerintahan yang belum stabil. Namun, kehidupannya saat ini bisa dibilang cukup baik dan tidak serba kekurangan. Setiap bulan, dia menerima uang pensiunan sebesar lebih dari Rp2 juta dan tunjangan lain hingga Rp1,5 juta. Pada Agustus kemarin, dia juga menjadi sasaran program bedah rumah veteran sehingga tempat tinggalnya menjadi lebih nyaman. Pawiro bersyukur karena mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dia juga berharap nasib baik juga dialami ratusan veteran lain di Kulonprogo.
Dullah Irsyad, veteran berumur 86 tahun asal Bantul, juga merasakan balas jasa negara terhadap para pejuang. Usianya lebih muda ketimbang Sugeng dan Pawiro, namun ingatannya jauh lebih uzur. Dullah sudah tak mampu mengingat detail-detail pertempuran yang dia hadapi. Fragmen yang masih melekat di kenangannya adalah dia pernah memanggul senjata saat Belanda menyerbu Bantul dalam Agresi Militer II.

Wakidjem, istri Dullah, mengatakan suaminya memutuskan keluar dari militer karena ingin melindungi keselamatan keluarganya. Dia kemudian gonta-ganti pekerjaan, mulai dari bekerja di pabrik gula hingga menjadi seorang tukang sapu. Sejak beberapa tahun lalu, Dullah menikmati tunjangan pensiun sebesar Rp2,2 juta per bulan. (Ujang Hasanudin, Rima Sekarani I. N., Herlambang Jati Kusumo)

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…