Presiden Jokowi memberi keterangan pers setelah meninjau geladi bersih persiapan pernikahan putrinya, Senin (6/11/2017) sore. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Presiden Jokowi memberi keterangan pers setelah meninjau geladi bersih persiapan pernikahan putrinya, Senin (6/11/2017) sore. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Selasa, 7 November 2017 06:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

H-1 Pernikahan Kahiyang, Presiden Jokowi Bagikan 10.200 Sertifikat Tanah di Sragen

Presiden Jokowi akan membagikan 10.200 sertifikat tanah kepada warga Sragen hari ini.

Solopos.com, SRAGEN — Satu hari menjelang pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak libur. Jokowi dijadwalan membagikan 10.200 sertifikat tanah kepada warga di enam kabupaten di wilayah Soloraya, yakni Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali, Selasa (7/11/2017).

Pembagian sertifikat tersebut dipusatkan di Stadion Taruna Karangmalang, Sragen. Presiden dijadwalkan tiba di stadion tersebut pukul 14.00 WIB. Selain Presiden, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga direncanakan hadir bersama Menteri Agraria dan Penataan Ruang/Kepala Badan Pertanahan Negara (BPN) Sofyan A. Djalil.

Rombongan Presiden memasuki Stadion Taruna melewati Jl. Veteran di sebelah timur Alun-alun Sasana Langen Putra ke selatan hingga Jl. R.A. Kartini kemudian memutar lewat Jl. Setiabudi dan Jl. Hasanudin dan kembali bertemu dengan Jl. Veteran sampai ke Stadion Taruna. Polres Sragen sudah menyiapkan 350 personel untuk pengamanan lalu lintas di jalur kedatangan Presiden dan jalur pulang Presiden.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sragen, Agus Purnomo, saat ditemui wartawan, Senin (6/11/2017), mengatakan kunjungan Presiden ke Sragen itu hanya untuk acara tunggal, yakni penyerahan sertifikat tanah kepada 10.200 pemilik tanah. Dia menyampaikan acara memang dipusatkan di Stadion Taruna Sragen. Khusus untuk Sragen, Agus menyebut ada 3.200 sertifikat tanah untuk warga di 12 desa.

“Sertifikat tanah itu merupakan program pendaftaran tanah sistematis lengkap [PTSL] yang diatur dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN No. 12/2017 tentang Percepatan PTSL. Dari metode ukur yang semula sporadis menjadi sistematis dan berkelompok. Nah, nanti pada 2018, PTSL itu yang aktif pemerintahnya bukan warganya. Wewenangnya ada di BPN,” jelasnya.

Program PTSL itu, kata dia, mengubah pola pikir terhadap tugas pokok aparatur pemerintahan. Dia menjelaskan proses sertifikasi tanah yang semula pemilik tanah yang aktif kemudian dibalik oleh Presiden menjadi pemerintah yang aktif.

Target nasionalnya, kata dia, pada 2017 ada 5 juta sertifikat. Pada 2018 meningkat menjadi 7 juta sertifikat dan di 2019 menjadi 9 juta sertifikat.

Agus menerangkan ada empat jenis kriteria dalam program PTSL. Pertama, data yuridis memenuhi syarat dan bisa diterbitkan. Kedua, sertifikat bisa diterbitkan, tanah bisa diukur, tetapi pemilik tanah harus bayar karena mampu. Ketiga, badan hukum yang secara yuridis lengkap bisa diterbitkan sertifikatnya. Keempat, tanah berperkara atau sengketa bisa diukur tetapi tidak bisa diterbitkan sertifikatnya sampai ada keputusan hukum tetap.

“Para penerima sertifikat oleh Presiden itu gratis semua. Mereka hanya dibebani biaya pembuatan batas tanah atau patok dan biaya perlengkapan yuridis administrasi seperti materai. Pada 2017 ini, kami menargetkan ada 15.000 bidang tanah yang disertifikatkan. Realisasi sampai November sudah mencapai 97%. Target tahun depan naik lagi sesuai dengan target nasional,” ujarnya.

Kabag Operasional Polres Sragen Kompol Joni Susilo mewakili Kapolres AKBP Arif Budiman menyampaikan pengamanan lalu lintas untuk kunjungan Presiden sudah siap semua.

 

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…