Heri Priyatmoko Heri Priyatmoko (Istimewa)
Selasa, 7 November 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama berkarya di Jakarta, penari berambut gondrong ini tetap ingin berbuat sesuatu untuk Kota Solo.

Bersama barisan perupa muda dan Dinas Pariwisata Kota Solo, ia menggulirkan ide segar: melukis mural pada dinding pertokoan di Jl. Gatot Subroto yang akrab disebut koridor Jl. Gatot Subroto.

Segenap panitia sepakat, acara anyar itu disebiut Festival Solo is Solo. Sebagaimana diberitakan Solopos (27/10), Solo is Solo menjadi program Dinas Pariwisata untuk menciptakan ikon atau destinasi wisata baru di Kota Solo. Terdapat 100 lebih seniman street art yang terlibat dalam program Solo is Solo.

Pada Rabu (18/10) mereka mulai membuat karya di koridor Jl. Gatot Subroto sebagai langkah persiapan menuju peresmian oleh Wali Kota Solo. Kegiatan ini dikonsep seperti pameran. Beragam jenis karya yang disuguhkan, mulai realis, kartun, pop art, modern art, dan sebagainya.

Sardono merangkul kamu muda untuk menggugah ingatan publik tentang sejarah yang pernah terjadi di sepenggal jalan di kawasan Singosaren itu. Momentum perayaan Sumpah Pemuda 28 Oktober tidak mau dilewatkan begitu saja dengan upacara formal dan tukar cerita sejarah di dalam kelas yang cenderung mengurung imajinasi historis peserta didik yang bermuara pada kebosanan.

Kini memang muncul pergeseran bahwa sepotong jalan dapat dijadikan wahana mendongengkan riwayat kampung dan kota kepada khalayak ramai. Kepedulian sejarah hendak disemaikan di arena ini. Dalam konteks ini inspirasi sejarah yang patut diunduh dan ditawarkan kepada publik ialah Societeit Habipraya.

Pada tempo dulu ruang publik tersebut berada di sebelah utara Pasar Singosaren. Bangunan yang didirikan Paku Buwono X itu lenyap gara-gara diledakkan tentara Belanda saat agresi militer II. Di tempat itulah, pada 1934, para pemuda bangsa membenihkan gagasan Indonesia mulia (bukan Indonesia merdeka).

Dokter Soetomo, salah seorang pelopor organisasi Boedi Oetomo, memaknai ruang societeit atau soos sejatinya bukan hanya pusat pertemuan santai untuk lingkaran elite Eropa maupun pribumi yang dimanfaatkan sebagai ajang lobi, ruang komunikasi, sarana rekreasi seperti berdansa, menyesap minuman keras serta menikmati hiburan modern yang bersifat elitis dan eksklusif.

Selanjutnya adalah: Soetomo yang lahir di Nganjuk

lowongan pekerjaan
PT.BPR DANA UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…